Unduh Aplikasi

Bangun Aceh dari Aceh Besar

Bangun Aceh dari Aceh Besar
BANDA ACEH - Kaum muda mesti memiliki kesadaran politik yang lebih luas atas dinamika politik yang sedang berlangsung saat ini di Aceh. Apalagi 10 tahun damai telah memberikan pembelajaran politik yang amat berharga, kaum muda mesti menentukan masa depan Aceh yang lebih baik.

Hal tersebut disampaikan Juanda Djamal saat mengisi diskusi yang digelar pemuda Kecamatan Peukan Bada di Ring Road Café Selasa lalu.

AJNN berkesempatan mewawancarai Juanda Djamal sesaat sebelum dirinya berangkat ke Patani di bandara Iskandar Muda, 24 Maret 2016.

Menurut Juanda Djamal, "Walaupun belum menjadi kader partai politik, akan tetapi saya harus ambil sikap politik yang jelas pada pemilukada 2017 kedepan, Skenario Aceh Baru telah mendorong saya untuk memastikan momentum politik 2017 menjadi momentum pergantian generasi kepemimpinan Aceh, ini momentum yang tepat untuk mengarahkan politik kekuasaan kepada upaya kesejahteraan seluruh masyarakat,"katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, keputusan untuk menjadi bagian penting dari tim pemenangan cabup Saifuddin Yahya alias Pak cek di Aceh Besar, karena sosok ini memberikan peluang yang lebih luas bagi kaum muda.

"Apalagi beliau pimpinan DPW partai Aceh yang merupakan partai lokal, kita dan UUPA memiliki cita-cita bahwa partai lokal harus menjadi anti-tesis dari parnas, parlok harus membuktikan dirinya bahwa mereka menjadi partai yang dapat lebih dekat dengan konstituennya, sehingga agenda kesejahteraan lebih mudah untuk diperjuangkan,” jelas aktivis Acehnese Civil Society Task Force itu.

Dikatakan Juanda, Aceh Besar yang kaya potensi di sektor ril harus dapat dikelola melalui pendekatan agribisnis, masyarakatnya dapat menguatkan diri sebagai kaum saudagar baru dengan menghasilkan produk olahan atas hasil pertanian maupun perikanannya. Garis pantai yang mencapai 120 km merupakan potensi alam yang dapat mensejahterakan rakyat, juga potensi wisata yang dapat menjadi tujuan masyarakat internasional.

"Untuk itu pendekatan kawasan menjadi pendekatan strategis dalam membangun Aceh Besar yang memiliki 23 kecamatan, semestinya wilayah yang luas bukan halangan dalam membangun, malah harus dilihat sebagai potensi yang dapat menghasilkan pendapatan daerah yang lebih tinggi, hasil tersebut dapat didistribusikan secara merata ke 23 kecamatan, sehingga menghindari ketimpangan pembangunan yang dapat menciptakan rasa kecewa pada sebagian warganya” ujar Juanda.

Menyinggung soal pemekaran, juanda mengapresiasikan langkah yang sudah dilakukan oleh tim pemekaran, baik Aceh Raya maupun Aceh Rayeuk.

"Sejauh UU membolehkan, maka setiap kita dapat memanfaatkannya, terpenting perjuangan tersebut untuk kesejahteraan masyarakat," imbuh Juanda.

Bagi Juanda, hal terpenting lainnya adalah keterhubungan semua wilayah yang didasari pada pengelolaan kapital ekonomi, terutama memastikan 23 kecamatan di Aceh Besar dapat melakukan sistem produksi guna menjamin ketahanan pangan bagi warganya maupun warga ibukota Aceh di Banda Aceh.

"Maka, pemerintah kabupaten Aceh Besar harus dapat membangun rencana sinergis dengan pemkot Banda Aceh dan bahkan pemkot Sabang," tutup Juanda Djamal.

Juanda Djamal berangkat ke Patani, Thailand, untuk menghadiri undangan sebagai pembicara dalam membangun sistem pendidikan resmi melayu yang diakui oleh pemerintah Thailand. Sebagaimana diketahui, rakyat Patani hidup dalam konflik bersenjata sudah sejak 1896, dan sampai tahun 2016 belum memiliki titik terang konflik tersebut berakhir.

Komentar

Loading...