Unduh Aplikasi

Bangkai Gajah Sumatera Ditemukan di Hutan Produksi Biheu

Bangkai Gajah Sumatera Ditemukan di Hutan Produksi Biheu
Foto: For AJNN

LHOKSEUMAWE – Bangkai gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan warga di kawasan Hutan Produksi (HTI) wilayah Biheu, Gampong Papeun, Kecamatan Muara Tiga, Laweung, Kabupaten Pidie.

Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto melalui Seksi Konservasi wilayah I Lhokseumawe, Kamarudzaman kepada AJNN mengatakan, dua hari lalu pihaknya menerima informasi dari Leader CRU Mila. Kemudian tim gabungan langsung menuju ke lokasi mengecek kebenarannya.

“Setelah dilakukan oleh tempat kejadian perkara (TKP), di sekitar lokasi tidak ditemukan adanya hal-hal atau barang-barang yang mencurigakan,” katanya.

Lanjut Aconk sapaan akrab—Kamarudzaman, lokasi temuan bangkai gajah diketahui berada di wilayah kawasan hutan produksi yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari perkebunan warga.  

Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim dokter hewan BKSDA Aceh, diperoleh hasil kematian satwa diperkirakan berkisar lebih kurang seminggu, dimana kondisi bangkai sudah sangat membusuk (sudah mengalami autolisis dan Putrepaction), bagian perut satwa sudah terburai keluar, dan beberapa bagian otot sudah rontok dari tulangnya.

“Bangkai Gajah Sumatera berjenis kelamin betina dengan perkiraan umur  30 tahun berdasarkan struktur gigi satwa,” tuturnya.

Lanjutnya, pada tubuh satwa tampak dari bagian kulit tidak terdapat tanda-tanda kekerasan fisik, luka tembak, luka tusuk, luka sayat, luka bakar atau trauma lainnya, selain kerusakan karena pembusukan jaringan secara alami.

Kerusakan organ dalam secara spesifik sudah tidak dapat diidentifikasi karena kondisi bangkai yang sudah sangat membusuk. Temuan satwa mati dekat dengan sumber air yang biasanya merupakan indikasi karena keracunan.

“Tim medis juga mendapatkan informasi dari warga yang pernah melihat gajah tersebut, seperti kurang sehat dalam beberapa waktu terakhir (sedikit kurus dan terpisah dari rombongan),” jelasnya.

Dari hasil nekropsi yang dilakukan secara makroskopis dan hasil anamnesa (informasi dilapangan) tersebut bahwa kematian satwa diduga karena keracunan (penyakit yang diakibatkan efek dari keracunan).

Guna mengetahui kepastian penyebab kematian gajah, tim medis mengambil beberapa sampel seperti sisa makanan dalam usus satwa, usus dan ujung belalai yang akan dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik untuk dilakukan uji laboratorium/ toksicologi. 

“Selanjutnya BKSDA Aceh akan terus berkoordinasi dengan pihak Polres Aceh Pidie untuk mengetahui ada tidaknya unsur pidana terkait dengan penyebab kematian gajah liar tersebut,” imbuhnya.

BKSDA Aceh mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar Gajah Sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa, serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati.

"Tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya.

“Disamping itu, beberapa aktivitas tersebut dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Gajah Sumatera dengan manusia, yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut,” tambahnya.

Idul Fitri - Disdik
Idul Fitri - BPKA
Idul Fitri - ESDM Aceh
Idul Fitri - Disbudpar
Idul Fitri- Gubernur Aceh

Komentar

Loading...