Unduh Aplikasi

Banda Aceh Tanpa Identitas

Banda Aceh Tanpa Identitas
ilustrasi: anny cook

RENCANA PT Trans Properti Indonesia membangun Trans Studio Mall Aceh adalah langkah baik. Saat ini, perusahaan itu membutuhkan masukan dalam proses analisa mengenai dampak lingkungan. Pusat perbelanjaan ini akan menambah pilihan masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya untuk menghabiskan uang.

Di era seperti sekarang ini, mall memang menjadi salah satu kebutuhan. Keberadaannya juga bisa memberikan jaminan kepada mereka yang akan datang ke Aceh bahwa daerah ini aman untuk investasi. Apalagi, pasar besar di Aceh selama ini dinikmati oleh pengusaha di Medan, Jakarta, atau di Kuala Lumpur.

Namun perlu diingat bahwa kota tidak diukur dari banyaknya pusat perbelanjaan. Karena di pusat-pusat perbelanjaan, sangat kental nilai-nilai individualistik. Pusat-pusat perbelanjaan masih menjadi simbol yang membedakan antara golongan berada dan miskin. Padahal, masyarakat Aceh adalah masyarakat egaliter.

Menganalogikan kemajuan daerah dari jumlah mall sama kelirunya dengan menganalogikan kemajuan dengan jumlah kendaraan bermotor terbaru di jalanan kota. Jika salah disikapi, hal ini hanya akan mendorong masyarakat kota semakin konsumtif dan “terjerat” dengan riba yang saat ini tengah diperangi.

Keberadaan pusat perbelanjaan modern ini hendaknya sejalan dengan keseriusan pemerintah kota untuk memperbaiki buruknya pasar tradisional di seluruh kota. Pemerintah kota harusnya menata kembali pasar-pasar yang ada sehingga bisa bersaing dengan pasar-pasar modern.

Jangan sampai, keberadaan pusat perbelanjaan modern, yang pasti akan diikuti dengan pasar retail modern yang menjual segala jenis kebutuhan dari baju hingga ikan segar, malah menyulitkan para pedagang kecil bersaing yang terpuruk di pasar yang kumuh dan panas.

Bahkan dengan keberadaan indomaret atau alfamart saja para pedagang kecil mengeluh. Pembeli lebih suka singgah dan berbelanja di gerai yang sejuk dan terang ketimbang masuk ke kedai mereka. Satu per satu pedagang lokal rontok karena kalah bersaing. Padahal mereka butuh proteksi.

Sayangnya, revitalisasi pasar tradisional sepertinya tidak masuk dalam “kamus pembangunan” di Banda Aceh. Padahal pasar-pasar ini menjadi identitas Banda Aceh sejak dulu. Jika pemerintah kota ingin menciptakan pasar-pasar tradisional yang nyaman, diperlukan orang-orang profesional dengan pengalaman yang luas. Bukan asal tunjuk.

Banda Aceh tak butuh pusat perbelanjaan besar. Ketimbang memperbanyak mall, lebih afdol jika pemerintah kota memperbaiki kawasan-kawasan perdagangan di Banda Aceh; Peunayong, Neusu, Jalan Muhammad Jam, Jalan Pocut Baren, atau kawasan Peuniti yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan telepon genggam.

Pedagang di Banda Aceh butuh keberpihakan penguasa terhadap usaha kecil yang sesak; terjepit oleh keterbatasan modal dan pasar kumuh dan sumpek. Mall, plaza, atau pusat perbelanjaan bukan lambang kesejahteraan. Banyaknya jumlah mall mengindikasikan sakitnya sebuah daerah.

Komentar

Loading...