Unduh Aplikasi

Baliho Shabela Cermin Buruknya Gaya Komunikasi di Tengah Upaya Perdamaian

Baliho Shabela Cermin Buruknya Gaya Komunikasi di Tengah Upaya Perdamaian
Baliho Ucapan selamat HUT Bhayangkara dari Bupati Aceh Tengah, Shabela Abu Bakar. Foto: AJNN Fauzi Cut Syam

ACEH TENGAH - Sebuah baliho ukuran besar, berisi ucapan selamat HUT Bhayangkara ke 74 dari pemerintah Aceh Tengah terpasang di dekat lampu merah, atau tepatnya di depan taman Aman Dimot.

Sekilas tidak ada yang aneh dengan baliho tersebut, tapi saat di lihat lebih teliti, gambar yang terpampang di sana hanya satu orang yaitu Bupati Aceh Tengah, Shabela Abu Bakar tanpa Wakil Bupati Firdaus.

Tidak ada gambar Wakil Bupati di dalam Baliho itu menimbulkan tanda tanya sebagian masyarakat. Beberapa orang berfikir kalau dua pejabat ini benar-benar sudah tidak bisa akur lagi, sampai urusan ucapan selamat di Baliho pun, gambarnya harus sendiri tanpa Wabup. Padahal usai Idul Fitri kemarin, foto ucapan selamat hari Raya dari mereka berdua masih menghiasi beberapa baliho di sejumlah sudut kota Takengon. Foto mereka malah turut didampingi istri masing-masing.

Untuk mengkonfirmasi apakah pemasangan foto ini atas perintah Bupati atau pihak lain, AJNN sekitar pukul 10.49 WIB berusaha menghubungi Sekda Aceh Tengah, Karimansyah. Saat itu Karimansyah mengangkat telepon selama 7 detik, namun dari suara yang muncul sepertinya Karimansyah sedang rapat. Lalu dia menutup kembali telepon.

AJNN juga menemui Ketua DPRK Aceh Tengah, Arwin Mega di ruang kerjanya, untuk meminta tanggapan terkait Baliho itu. Arwin Mega secara singkat mengatakan masalah Baliho ucapan selamat HUT Bhayangkara tidak perlu dibesar-besarkan.

"Ini hal biasa tidak perlu terlalu dibesar-besarkan, apalagi Pansus perdamaian saat ini sedang bekerja," ujar Arwin Mega kepada AJNN, Rabu (1/7/2020) di Takengon.

Kejanggalan pemasangan Baliho tanpa foto Wakil Bupati Firdaus juga mendapat kritikan dari Koordinator LSM Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko), Maharadi.

Menurutnya, tampilan baliho tersebut sudah memperlihatkan kepada publik bahwa konflik antara Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tengah, sudah tidak ada jalan damai. Sebagai warga Aceh Tengah, Maharadi prihatin dengan situasi ini, menurutnya, kondisi ini akan berpengaruh terhadap tata kelola, pemerintahan yang baik.

"Meskipun sekedar Baliho, ini menunjukkan bahwa sudah tidak ada lagi niat untuk upaya damai," ujar Alumni Universitas Negeri Medan (UNIMED) tersebut.

Maharadi khawatir dengan sikap seperti itu, pelayanan dasar terhadap warga Aceh Tengah, tidak dipenuhi oleh pemerintah, dalam hal ini Bupati dan wakil Bupati. Dirinya beranggapan bagaimana mungkin, mereka bisa melayani masyarakat Aceh Tengah sementara mereka berdua tidak akur dan mempertontonkan konflik ini kepada warganya.

Maharadi yang merupakan jebolan Sekolah Anti Korupsi (SAKTI) Indonesia Coruption Watch (ICW) angkatan pertama Tahun 2013 tersebut, menilai kejadian ini juga menjadikan upaya perdamaian yang coba dilakukan DPRK melalui pansus, menjadi sia - sia. Sehingga timbul asumsi dan pembenaran kalau upaya ini sebagai bentuk mengakali Pansus saja. Artinya mereka tidak punya etikat baik untuk berdamai.

Kondisi lain juga diperparah dengan komentar Shabela yang ingin berdamai tanpa syarat, tapi di sisi lain, dia juga meminta Firdaus meminta maaf kepada Shabela melalui media nasional. Hal ini menurut Maharadi tidak mungkin dilakukan oleh Firdaus, apalagi ini menyangkut harga diri.

Kembali terkait Baliho. Maharadi mengatakan persepsi yang terjadi pada publik saat melihat baliho tersebut adalah mereka semakin tidak akur. Ini menjadi tidak baik. Dalam kondisi apapun, sebagai unsur Forkompinda, seharusnya Bupati dan wakil Bupati harus selalu hadir karena mereka satu paket saat Pilkada lalu.

"Gaya komunikasi Bupati sudah salah. Berarti ini perintah Bupati langsung kan? kalau Humas yang berinisiatif, mungkin ini akan menyalahi. Tapi sepertinya ini ada perintah langsung dari Bupati," pungkas Maharadi.

Sementara itu Sukurdi Iska, Ketua Tim Pansus DPRK Aceh Tengah untuk perdamaian Shabela - Firdaus mengatakan kalau dirinya baru tahu adanya Baliho ucapan selamat HUT Bhayangkara dengan foto Shabela tanpa gambar wakilnya Firdaus.

Menurut Sukurdi, tampilan Baliho seperti ini mungkin hal biasa, namun dalam situasi saat ini, apalagi tim pansus sedang bekerja, tentu saja tidak elok jika ditinjau baik dari komunikasi politik maupun sosial kemasyarakatan.

"Saya akan mencoba menghubungi saudara Bupati untuk menanyakan hal ini, kalau perlu balihonya diganti saja dengan gambar Shabela didampingi Firdaus agar tidak timbul prasangka yang negatif dari masyarakat," ujar Politisi Partai Demokrat tersebut.

Selain itu Sukurdi mengungkapkan bahwa tim Pansus yang dipimpinnya sudah berhasil menemui Shabela dan juga Firdaus. Dari beberapa perbincangan dengan kedua pihak yang bersitegang, semuanya mempunyai niat baik untuk berdamai. Namun saat ini pihaknya belum bisa mempublikasi hasil Pansus kepada publik.

"Insya Allah, pertengahan bulan Juli ini kita akan sampaikan kepada teman-teman media setelah melaporkan kepada ketua DPRK," ujar Sukurdi.

Komentar

Loading...