Unduh Aplikasi

Balap Motor dan Kemiskinan

Balap Motor dan Kemiskinan
Perhelatan balap motor di Aceh Timur. Foto: Mahyuddin.
IKATAN Motor Indonesia (IMI) Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur harusnya malu. IMI, sebagai organisasi yang dikenal bonafide, tidak seharusnya menetek dari anggaran daerah untuk menyelenggarakan sebuah even bertingkat nasional.

Ini menunjukkan bahwa pengurus IMI tidak memiliki kemampuan untuk menghimpun dana dari pihak swasta sebagai sponsor untuk mencukupi biaya penyelenggaraan kejuaraan balap motor. Apalagi organisasi ini dikelola oleh para profesional yang tentu memiliki hubungan baik dengan perusahaan-perusahaan besar di tingkat nasional. Rasanya tak sulit bagi mereka untuk mencari uang sebesar itu.

Di sisi lain, ajang olah raga orang kaya ini juga seperti membuka topeng IMI Aceh. Di balik nama besar, organisasi ini bak parasit, menghisap intisari kehidupan masyarakat Aceh Timur yang hingga kini masih terbelenggu kemiskinan.

Kemiskinan memang menjadi isu utama di Aceh Timur. Kemiskinan di daerah ini terlihat di hampir setiap sudut. Di kota dan di desa-
desa. Banyak sekolah yang tak layak, jalan-jalan rusak dan warga yang tinggal dalam bangunan yang tak layak huni.

Pengucuran dana sebesar hampir Rp 1 miliar itu memang bukan kuasa IMI Aceh sendiri. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dan dewan setempat juga menjadi bagian penting dalam pencairan dana besar itu.

Lobi-lobi di antara pihak ini jelas memunculkan sebuah tanda tanya besar, “bagaimana mungkin di tengah kesulitan masyarakat ini, pemerintah mengucurkan dana besar kepada sebuah organisasi hanya untuk mengadakan balapan motor?”

Dari sisi olah raga, aktivitas yang satu ini jelas terbilang mahal. Bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengikutinya. Jika pemerintah dan dewan mau, harusnya dibuat perhelatan olah raga yang lebih sederhana dan merakyat, seperti sepak bola atau balap karung untuk menyambut Hari Jadi Republik Indonesia ke-71.

Pengucuran dana ratusan juta ini juga menjadi bukti pemerintah tidak sensitif dan cenderung arogan dalam pengelolaan anggaran. Mereka bisa sesukanya menyalurkan anggaran tanpa memikirkan perasaan warga yang tidak mampu saat mengetahui uang mereka dihabis-habiskan hanya untuk balap-balapan.

IMI Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur harus menjelaskan secara rinci penggunaan dana sebesar Rp 827 juta yang mereka habiskan. Penggunaan dana sebesar itu harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, bahkan setiap sen. Jika tidak, itu namanya penggarongan.

Komentar

Loading...