Unduh Aplikasi

PELAKU PERKOSAAN DIHUKUM 2 TAHUN 

Balai Syura: Putusan Hakim Mahkamah Syar'iyah Lukai Penyintas dan Keluarga

Balai Syura: Putusan Hakim Mahkamah Syar'iyah Lukai Penyintas dan Keluarga
Presidium Balai Syura, Suraiya Kamaruzzaman. Foto: Net

BANDA ACEH - Mahkamah Syar'iyah Jantho menjatuhkan putusan bersalah kepada pelaku pemerkosaan sekaligus pelecehan seksual terhadap terdakwa MR (78), dengan hukuman penjara 24 bulan dipotong masa penahanan.  

Presidium Balai Syura, Suraiya Kamaruzzaman menyesalkan putusan hakim tersebut. Seharusnya pelaku harus dihukum dengan seberat-beratanya, apalagi korban merupakan penyandang disabilitas.

“Ini sangat memprihatikan, pelaku perkosa hanya dihukum 24 bulan saja. Harusnya dihukum seberat-beratnya atau semaksimal mungkin sesuai diatur dalam Qanun Hukum Jinayat,” kata Suraiya Kamaruzzaman, Jumat (23/10).

Menurut Suraiya, jika hukuman hanya 24 bulan tentu tidak memberikan efek jera terhadap pelaku, karena hukuman hanya alakadar, dan disana juga harus dipertanyakan, dimana keadilannya.

“Harusnya kalau Mahkamah Syar'iyah, benar menganggap pemerkosaan sangat mencoreng nama Aceh sebagai daerah Syariat Islam (sesuai komentar Humas di berita AJNN), harusnya  menjadi ujung tombak untuk menunjukkan penegakan syariat tersebut,” ungkapnya.

Seharusnya, kata Suraiya, Mahkamah Syar'iyah justru membawa keadilan bagi korban dengan memberi hukuman optimal, kepada pelaku sebanyak 175 bulan atau 15 tahun dan 5 bulan lebih.

Baca: Pria Lansia, Pelaku Pemerkosa Penyandang Disabilitas Dihukum 24 Bulan Penjara

“Karena kalau merujuk berita AJNN, pelaku terbukti bersalah melakukan perkosaan dan pelecehan,” ujarnya.

Seandainya yang terbukti pelecehan seksual saja, sambung Suraiya, untuk menimbulkan efek jera tetap harus dihukum maksimal sebanyak 45 bulan, mengingat maraknya kasus perkosaan dan kekerasan seksual di bumi Serambi Mekah ini.

“Sepertinya sekali-kali penegak hukum perlu mencoba menempatkan diri sebagai korban, untuk kembali mengasah rasa keadilan sebelum membuat keputusan hukum,” tuturnya.
Suraiya juga menyampakan belum lupa dan belum hilang kesedihan masyarakat dengan kasus pemerkosaan di Aceh Timur, dimana selain seorang perempuan menjadi korban, anaknya juga kehilangan nyawa karena membela ibunya.

“Kali ini selain berita sedih dimana penyintas adalah difabel, keputusan hakim juga telah melukai penyintas dan keluarganya, tapi juga merobek-robek nurani dan rasa keadilan masyarakat Aceh,” imbuhnya.

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...