Unduh Aplikasi

Bahaya Laten di Lahan Konflik

Bahaya Laten di Lahan Konflik
RENTETEN protes, pemblokiran dan pembakaran aset perusahaan di lahan perkebunan sawit, dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir, harus ditangani dengan lebih berhati-hati, menyeluruh dan tuntas.

Di Nagan Raya, di atas lahan yang diklaim sebagai milik PT Fajar Baizury, rakyat meradang. Masyarakat memblokir jalan dan lahan yang mereka yakini sebagai milik mereka. Perusahaan dianggap merampas tanah 480 hektare dan milik Desa Cot Me seluas 300 hektare. Lahan itu masuk ke dalam peta Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan.

Peristiwa teranyar adalah pembakaran barak oleh orang tak dikenal di Desa Neubok Yee, Kecamatan Tripa Makmur, Nagan Raya. Dalam insiden ini, pasangan suami istri menjadi korban. Jasad mereka ditemukan di antara reruntuhan barak dan kayu yang berubah jadi arang.

Setiap konflik berasal dari atas. Dan rentetan insiden buruk itu adalah buah dari benih permusuhan yang sejak lama disemai dalam ladang konflik. Di masa lalu, saat perang masih berkecamuk di Aceh, tak ada yang berani melawan perusahaan-perusahaan besar yang dengan mudah meminjam tangan negara untuk merampas tanah warga dan tanah ulayat. Setiap perlawan akan berhadapan dengan moncong senjata.

Dan kini, jejak kekerasan itu mulai muncul. Nagan Raya adalah salah satu daerah yang memiliki potensi besar kerusuhan akibat konflik lahan. Karena banyak korporasi raksasa yang berdiri dan berusaha di daerah ini. Berulang kali kasus ini disampaikan kepada Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Namun masyarakat seperti berbicara dengan tembok.

Tanpa usaha sungguh-sungguh pihak pemerintah menyelesaikan permasalahan ini, konflik lahan akan memicu konflik lebih besar lagi. Konflik ini dengan mudah muncul dan dimunculkan untuk mengganggu pelaksanaan Pilkada 2017.

Oleh karenanya perlu keseriusan pemerintah dan dewan untuk menuntaskan permasalahan ini. Terutama dalam memberikan keadilan bagi semua pihak. Jangan sampai pemerintah terlambat mematikan bara konflik ini. Karena hal ini bukan saja bom waktu yang sewaktu-waktu siap meledak menjadi konflik sosial, pembiaran ini juga akan berdampak pada bidang ekonomi, yaitu keengganan investor untuk masuk ke Aceh.

Komentar

Loading...