Unduh Aplikasi

Azhari, Petani Jengkol Yang Tetap Berjaya Saat Pandemi

Azhari, Petani Jengkol Yang Tetap Berjaya Saat Pandemi
Azhari (36) saat berada di kebun miliknya di kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, kabupaten Bener Meriah. Foto: AJNN/Razikin Akbar.

BENER MERIAH - Azhari, begitu ia kerap disapa oleh beberapa kerabat dan orang-orang disekitarnya. Pria yang berumur 36 tahun ini merupakan salah seorang petani yang bisa disebut sukses di kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, kabupaten Bener Meriah.

Ketika orang-orang yang berada di kabupaten Bener Meriah mayoritasnya menggalakan tanaman kopi sebagai tanaman utama di kebun mereka, Azhari lebih memilih jalan lain.

Ia lebih memilih tanaman jengkol sebagai tanaman utama yang mengisi rongga-rongga tanah seluas hampir dua hektar di kebun miliknya.

Beberapa lalu,  saat AJNN berkesempatan bertemu Azhari, dia menceritakan bahwa tanah kebun jengkol yang saat ini dia budidayakan merupakan tanah warisan dari orang tuanya. 

Ia mengaku awal mulanya tanaman jengkol yang ia budidayakan, ditanam oleh orang tuanya semenjak tahun 1994. Kemudian pada saat konflik Aceh bergejolak di tahun 2000-an, ia bersama keluarganya pindah ke Meulaboh untuk mengamankan diri.

Namun setelah konflik Aceh reda, ia bersama keluarganya kembali ke Bener Meriah dan mendapati pohon-pohon jengkol yang ditanami oleh orang tuanya telah tumbuh dan menghasilkan buah.

"Walaupun selama ini kebun tak terurus dan dipenuhi rumput ilalang yang begitu tebal. Namun Alhamdulilah menghasilkan buah," ujar Azhari.

Azhari mengaku kalau saat ini dia telah menanam sekitar 100 batang jengkol di tanah yang kurang lebih berluas tiga hektar itu, sebagian pohonnya telah berbuah maksimal setiap tahunnya, sebagian lagi belum. Hasil panen dalam kurun waktu setahun juga tidak main-main, untuk panen rata-rata minimal saja bisa sampai 12 ton.

"Untuk hasil maksimal (buah banjir) setiap pohon, seperti tahun lalu, kadang untuk satu pohon saja hasilnya bisa hampir mencapai 1 ton buah jengkol," ujar Azhari.

Untuk perkilo jengkol yang ia jual ke toke bisa ditaksir dengan harga Rp 7000/kilo. Namun akan berbeda harganya jika ia mampu menjual jengkol yang dihasilkan kepada penampung. Harga ditingkat penampung bisa berkisar Rp 20 ribu/kilo. Sehingga bisa dihitung sendiri berapa penghasilan yang Azhari dapatkan dengan banyaknya jumlah panen setiap tahunnya.

"Apalagi harga sekarang, itu kalau kita petik dan bawa sendiri (ke penampung), harganya bisa sampai Rp20 ribu per Kg, tapi selama ini kita juga mau bagi-bagi rejeki dengan kawan-kawan yang mengambil langsung dengan kita di kebun," tambah Azhari.

Kepada AJNN, Azhari mengungkapkan bahwa sejak tiga tahun yang lalu, ia lebih bergairah menghidupi pohon jengkol daripada pohon kopi karena minimnya biaya perawatan. 

Menurut Azhari, tanaman jengkol cukup menunggu enam tahun pasca ditanam, maka untuk selanjutnya pohon jengkol akan berbuah setiap tahun dengan sendirinya walau tanpa perawatan.

Untuk saat ini kata Azhari, kurang lebih ada sekitar 1000 batang bibit pohon jengkol sudah disiapkan dan akan ia tanami di beberapa lahan miliknya.

"Saya sedang siapkan sekitar 1000 batang bibit pohon jengkol, jengkol ini tanaman menuju hari tua, sebab setelah ditanam beberapa tahun kemudian kita cuman tinggal nunggu hasilnya setiap tahun, tanpa perlu sibuk merawatnya,' tutup Azhari.

Sebagai refleksi, apa yang dilakukan oleh Azhari bisa menjadi inspirasi bagi petani-petani yang ada di wilayah dataran tinggi Gayo, mengingat kondisi harga kopi yang menjadi tanaman primadona di dataran tinggi Gayo yang hingga hari ini tak kunjung membaik.

Komentar

Loading...