Unduh Aplikasi

Ayo, Kenali Rhesus dalam Darah

Ayo, Kenali Rhesus dalam Darah
Darah
Ilmu pengetahuan selalu mengantarkan kita kepada pengetahuan lain. Dalam dunia kedokteran, saat ini diketahui golongan darah tak terbatas pada A, B, O dan AB saja. Selain terbagi atas golongan, darah juga terbagi atas rhesus, yaitu RH (+) dan RH (-). Dalam darah rhesus ini disebut sebagai Faktor RH. Faktor RH merupakan protein yang ditemukan dalam darah manusia.

Protein dalam darah manusia juga sering disebut sebagai antigen D. Jika darah terdapat antigen D, darah berhesus positif tergantung pada golongannya lagi, seperti A+, B+. O+, dan AB+. Jika pada darah tidak memiliki Antigen D, darah berhesus negatif yang diikuti pada golongan darahnya, seperti A-, B-, O- dan AB-.

“Jika seseorang yang memiliki darah dengan rhesus negatif, lalu ditransfusi darah golongan sama tapi rhesus positif, khususnya bagi wanita yang sedang hamil, akan mudah mengalami keguguran. Karena darah mendeteksi adanya benda asing yang masuk, yaitu janin,” kata dr Natalina Christanto, Ketua Rhesus Negatif Aceh, beberapa waktu lalu. “Oleh karenanya, rhesus negatif khususnya wanita harus lebih berhati-hati menerima darah. Terlebih harus lebih memilih kesamaan rhesusnya. Yaitu sama sama memiliki rhesus negatif.”

Natalina mengatakan rhesus merupakan sistem penggolongan darah berdasar ada tidaknya protein atau antigen D dalam darah seseorang. Ini bisa membentuknya antibodi. Rhesus Positif pada darah jelas berbeda dengan darah yang memiliki rhesus negatif, hampir setiap orang memiliki rhesus positif. Bahkan tercatat ada 85 persen penduduk dunia memiliki rhesus positif atau RH (+) dan selebihnya 15 persen memiliki rhesus negatif atau RH (-).

Rhesus negatif juga sering disebut darah dengan jenis langka. Hal itu disebabkan, seseorang yang memiliki darah dengan rhesus negatif tidak dapat menerima donor darah dari orang dengan rhesus positif. Sedangkan rhesus positif bisa menerima darah dari pendonor dengan rhesus negatif. Pengetahuan ini pertama kali dikemukakan Karl Landsteiner pada 1940. Nama Rhesus sendiri diambil dari nama kera dengan jenis rhesus yang bernama Macaca Mulatta.

Seseorang yang memiliki rhesus negatif akan berbahaya jika terbentuk antibodi di dalam darahnya. Terutama bagi para wanita, yang nantinya akan hamil dan melahirkan. Antibodi pada rhesus negatif dapat terbentuk dari masuknya darah dengan antigen D atau darah dengan rhesus positif ke dalam rhesus negatif.

Jumlah pemilik rhesus negatif di Indonesia hanya 0,5 persen dari total penduduk Indonesia yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Ini membuat petugas medis kesulitan mencari stok darah dengan rhesus yang sama. Pendonor dengan rhesus negatif tidak disarankan untuk sering melakukan pendonoran darah. Sebab, pemilik rhesus negatif sangat sedikit di Indonesia.

“Pendonor rhesus negatif biasanya disebut juga dengan pendonor on call, kapan pun dihubungi harus siap. Karna itu, dengan rhesus negatif tidak boleh rutin mendonorkan darahnya. Agar darah dengan rhesus negative dapat tersedia jika dibutuhkan sewaktu-waktu,” ungkap Natalina.

Dara Hersavira

 

Komentar

Loading...