Unduh Aplikasi

Ayam Ras, Ikan dan Kerang Penyumbang Inflasi di Lhokseumawe

Ayam Ras, Ikan dan Kerang Penyumbang Inflasi di Lhokseumawe
Ilustrasi. Foto: Net

LHOKSEUMAWE - Daging ayam ras, kerang dan sejumlah jenis ikan menjadi penyumbang inflasi di Lhokseumawe pada Juni 2020. Hal itu berdasarkan data dari dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dihimpun oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia, cabang Lhokseumawe.

Berdasarkan perkembangan tersebut maka inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada Juni 2020 mencapai 1,08 persen (year on year/yoy) atau rendah terkendali di bawah kisaran sasaran inflasi Pemerintah sebesar 3,0 persen ±1 persen (yoy).

“Pada bulan Juni 2020 tercatat mengalami deflasi atau penurunan harga barang dan jasa secara umum sebesar (-)0,07 persen (month to month / mtm). Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan bulan Mei 2020 yang tercatat inflasi sebesar 0,05 persen (mtm),” kata Kepala KPwBI Lhokseumawe, Yukon Afrinaldo, Rabu (8/7).

Sebut Yukon, deflasi Kota Lhokseumawe pada bulan Juni 2020 menjadi yang terendah dibandingkan deflasi pada 2 kota lainnya yang menjadi perhitungan inflasi di Provinsi Aceh, yaitu Kota Banda Aceh sebesar (-)0,18 persen (mtm) dan Meulaboh sebesar (-)0,19 persen (mtm).

“Secara keseluruhan, Provinsi Aceh mengalami deflasi sebesar (-)0,15 persen (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,26 persen (mtm). Secara nasional terjadi inflasi sebesar 0,18 persen (mtm),” ungkapnya.

Deflasi di Kota Lhokseumawe pada bulan Juni 2020 terutama bersumber dari penurunan harga pada kelompok transportasi yang memberikan andil sebesar (-) 0,0 persen perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil (-) 0,03 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar rumah tangga (-0,02 persen); dan makanan, minuman dan tembakau (-0,01 persen).

Sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi dengan andil sebesar 0,01 persen. Lima komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi terbesar di Kota Lhokseumawe adalah bawang merah (andil: -0,16 persen), jeruk nipis (-0,11 persen), udang basah (-0,09 persen), cabai merah (-0,08 persen) dan minyak goreng (-0,05 persen).

Penurunan harga pada komoditas tersebut dipengaruhi oleh peningkatan pasokan bawang merah karena panen di Sigli dan Gayo Lues. Demikian juga pasokan cabai merah meningkat baik dari lokal khususnya Sigli maupun luar Aceh khususnya dari Sumatera Utara. Adapun minyak goreng mengalami penurunan harga dari distributor di Sumatera Utara. Sementara harga emas perhiasan menurun mengikuti harga emas dunia.

“Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi diantaranya daging ayam ras (andil: 0,41 persen, ikan tongkol (0,15 persen), ikan dencis (0,12 persen), kerang (0,02 persen), dan ikan kembung (0,02 persen,” tuturnya.

Lanjut Yukon, kenaikan harga yang terjadi pada daging ayam ras akibat pasokan yang terbatas sebab DOC yang digemukkan mengalami bobot abnormal yaitu lebih kecil dari biasanya. Selain itu, harga telur ayam ras meningkat karena kenaikan harga dari distributor dari Sumatera Utara disertai dengan mulai normalnya permintaan dari usaha kuliner. Adapun harga ikan tongkol meningkat didorong oleh hasil tangkapan ikan laut yang menurun disertai permintaan dari luar Aceh yang meningkat.

“Kedepan, inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2020, yaitu 3,0± persen. Untuk itu, koordinasi antara Pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga,” imbuhnya.

Komentar

Loading...