Unduh Aplikasi

Atasi Konflik di Pidie, BKSDA Datangkan Tiga Gajah Jinak

Atasi Konflik di Pidie, BKSDA Datangkan Tiga Gajah Jinak
Foto: Ist

LHOKSEUMAWE - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh melaksanakan upaya penanggulangan konflik gajah (Elephas maximus ssp. Sumatranus) dengan manusia di Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie.

Penggiringan itu dilakukan dengan cara menggunakan gajah jinak. Gajah jinak tersebut berjumlah tiga ekor dengan nama gajah Rahmat, gajah Arjuna, dan gajah Midok yang didatangkan dari CRU DAS Peusangan Bener Meriah dan Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree Aceh Besar.

Upaya penggiringan tersebut turut dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe dan Resor Konservasi Wilayah 5 Sigli bersama dengan pihak Mitra Fauna & Flora International (FFI), Conservation Response Unit (CRU) Aceh, dan didampingi Masyarakat Peduli Konflik Gajah.

“Upaya penanggulangan konflik melalui penggiringan dengan menggunakan gajah jinak ini merupakan salah satu penanggulangan lanjutan terhadap konflik gajah dengan manusia yang sering terjadi di Kecamatan Mila Kabupaten Pidie dari tahun 2019 hingga awal tahun 2020 ini,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe, Kamarud Zaman.

Kamarud Zaman menambahkan, beberapa kelompok gajah liar yang berada di Kecamatan Mila Kabupaten Pidie ini telah meresahkan masyarakat setempat, serta petugas CRU Mila dengan kemunculannya yang sering menyerang gajah jinak di CRU Mila.

Pada tahun 2019 pernah dilakukan penggiringan pada kelompok gajah liar tersebut secara manual dengan menggunakan mercon dan meriam karbit, tetapi tidak membuahkan hasil yang optimal serta membahayakan tim petugas yang sedang melakukan penggiringan. Secara taksonomi, Gajah Sumatera termasuk kelompok Mammalia dengan Famili Elephantidae.

Berdasarkan IUCN, jenis satwa ini berstatus Kritis/critically endangered. Gajah Sumatera merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018

Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Habitat dari satwa liar Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) ini yaitu pada hutan dataran rendah.

“Upaya penanggulangan konflik gajah liar dengan manusia yang dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh ini berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/Menhut-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar,” ujarnya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengimbau kepada seluruh elemen stakeholder untuk ikut serta dalam mengatasi permasalahan yang menjadi pemicu terjadinya konflik gajah dengan manusia, seperti maraknya aktivitas ilegal di sekitar habitat gajah, berkurangnya koridor gajah, dan menyempitnya habitat satwa liar tersebut.

 

IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...