Unduh Aplikasi

Assalamu Alaikum, Menteri Fachrul Razi

Assalamu Alaikum, Menteri Fachrul Razi
Ilustrasi: Detik.

MENTERI Agama Fachrul Razi boleh saja meminta masyarakat mempercayakan penanganan kasus penusukan terhadap Syekh Ali Jaber kepada aparat penegak hukum. Namun Fachrul juga harus mengingatkan kepada kepolisian bahwa aksi A Alfian Andrian itu adalah teror. Dan tindakannya adalah terorisme.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teror bermakna; usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan; atau ancaman, tindakan kekerasan, dan sebagainya yang sangat menakutkan. Sedangkan terorisme berarti penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror.

Bagi para pendakwah, profesi itu adalah panggilan hati. Jangan tanyakan tingkat keikhlasan para pendakwah dalam menyebarkan ajaran agama. Bagi mereka ini adalah ladang mencari amal. Ini adalah jihad yang balasannya adalah surga. Saat seseorang meninggal dunia saat berjihad, itu adalah kematian syahid.

Namun negara harus hadir memastikan hal-hal ini tidak terulang kembali. Terhadap siapa saja. Tugas negara itu hanya tiga, memastikan keselamatan nyawa rakyatnya, memastikan harta rakyatnya dan melindungi kehormatan rakyatnya.

Dengan menyatakan bahwa aksi Alfian adalah teror, maka pasal yang menjerat pelaku akan lebih berat lagi ketimbang pidana kekerasan atau percobaan pembunuhan. Indonesia juga menggolongkan tindak pidana terorisme sebagai kejahatan serius dan dan luar biasa jahat terhadap kemanusiaan, keamanan negara, dan kedaulatan negara.

Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme juga menjadi agenda serius Pemerintah Indonesia. Sudah seharusnya Menteri Fachrul bertindak sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, bahwa negara melindungi segenap bangsa Indonesia.

Banyak sekali kasus-kasus pembunuhan terhadap pendakwah atau ulama di negeri ini yang tak tuntas hanya karena pelaku dinyatakan gila. Padahal, banyak pula yang meyakini bahwa pelaku adalah jaringan dari teroris yang mengincar para pendakwah dan ulama. Bahkan pernyataan tentang pura-pura gila dinyatakan sebagai motif diungkapkan oleh bekas Kepala Badan Intelijen Negara. Ini jelas bukan pernyataan cilet-cilet.

Menteri Fachrul pun tak usah khawatir masyarakat, terutama kaum muslim, akan terprovokasi. Setop menganggap umat Islam sebagai warga negara yang brutal dan masyarakat yang bodoh. Umat Islam sangat paham mengenai teror dan terorisme yang selama ini kerap dilabelkan kepada mereka, terutama usai Amerika Serikat mengampanyekan tentang teror dan terorisme dan disadur beramai-ramai oleh banyak pemerintahan di berbagai belahan dunia.

Bahwa pelaku adalah seseorang yang disuruh dan dilatih, bukan orang gila; hanya disuruh mengaku gila saat tertangkap, harusnya jadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan kepolisian, segera. Menteri Fachrul harus memastikan hal ini. Kalau perlu, dia menghadap Presiden Joko Widodo dan meminta orang nomor satu di negeri ini mengawasi kinerja kepolisian dalam mengusut kasus ini.

Menteri Fachrul juga tak perlu khawatir masyarakat yang sering mendengarkan pengajian di masjid atau di majelis-majelis akan mengamuk karena terprovokasi. Karena dalam setiap pengajian, mereka diajarkan untuk memahami kata-kata, “assalamu alaikum.” Kata ini bukan sekadar “hello”. Assalamu alaikum adalah janji dari seorang muslim untuk menjaga harta, nyawa dan martabat siapa saja yang diucapkan salam.

Komentar

Loading...