Unduh Aplikasi

Apdesi: Pemangkasan Rumah Dhuafa Mencederai Rasa Keadilan Publik

Apdesi: Pemangkasan Rumah Dhuafa Mencederai Rasa Keadilan Publik
Kondisi rumah Mawardi (37), warga Gampong Pulo, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara. Foto: Dok AJNN

BANDA ACEH - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Pemerintah Desa seluruh Indonesia (APDESI) Provinsi Aceh, kecewa dengan sikap Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) dan Badan Anggaran (Banggar) DPRA terkait pengurangan jumlah rumah dhuafa dalam Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2021.

Ketua DPD Assosiasi APDESI Provinsi Aceh, Muksalmina Asgara, mengatakan TAPA dan Banggar DPRA seharusnya tidak mengurangi jumlah rumah dhuafa yang akan dibangunan. Apalagi Kemendagri tidak mempermasalahkan jumlah rumah itu, malah diminta untuk ditambah.

"Jadi aneh kalau kemudian TAPA dan Banggar malah mengurangi jumlah rumah, ini jadi pertanyaan besar bagi kami selaku aparat desa," kata Muksalmina Asgara kepada AJNN, Kamis (14/1).

Padahal, kata Muksalmina, program rumah dhuafa itu sangat bermanfaat bagi masyarakat. Apalagi program tersebut langsung menyentuh untuk masyarakat kurang mampu. 

"Seharusnya ditambah lebih banyak, bukan dikurangi. Kami menilai elit Aceh seperti tidak berpihak kepada masyarakat miskin. Masyarakat sangat membutuhkan rumah itu tempat tinggal," jelasnya.

Baca: Jumlah Rumah Dhuafa Dikurangi, Elit Aceh Dinilai Tidak Pro Rakyat Miskin

Ia menduga pengurangan jumlah rumah yang dibangun itu anggarannya ditambah untuk pokok pikiran (pokir) DPRA. Pasalnya setelah hasil evaluasi itu, sangat terlihat kalau jumlah pokir DPRA bertambah drasti, sementara rumah dhuafa berkurang dari 4.430 unit menjadi 780 unit.

"Ini namanya mengorbankan masyarakat, seharusnya dana pokir DPRA dikurangi dan ditambah untuk pembangunan rumah dhuafa," ujar Muksalmina.

Selain itu, Muksalmina heran dengan jumlah pokir yang bertambah. Dimana setiap dewan dikabarkan mendapatkan penambahan Rp 3 miliar, kemudian ketua fraksi Rp 5 miliar, wakil ketua Rp 50 miliar dan ketua Rp 100 miliar.

"Sedih saja saya selaku orang di lapangan melihat kondisi seperti ini, masyarakat padahal sangat membutuhkan tempat tinggal, apalagi rumah yang dibangun untuk satu rumah hanya Rp 93 juta, kejadian ini benar-benar sangat menyedihkan," jelasnya.

Komentar

Loading...