Unduh Aplikasi

APBA 2017 Ala Sangkuriang

APBA 2017 Ala Sangkuriang
Ilustrasi

SYAHDAN, setelah sekian lama, Sangkuriang berjumpa dengan ibu kandungnya dan ingin segera menikahi perempuan yang melahirkannya itu. Dayang Sumbi--nama ibunya--dikaruniai paras cantik dan keremajaan yang kekal. Kemolekan yang membuat Sangkuriang kasmaran.

Sangkuriang yang dikendalikan hasrat tak dapat menahan diri. Dia melamar Dayang Sumbi. Ceritanya pasti berbeda jika Dayang Sumbi tidak melihat parut luka di kepala anaknya itu. Karena memang Dayang Sumbi tak tahu Sangkuriang, anak yang lari darinya, menjadi pria tampan.

Untuk menggagalkan pernikahan itu, dibuatlah sejumlah persyaratan yang tak masuk akal. Pertama; Sangkuriang harus dapat membuat sebuah perahu yang besar. Kedua; Sangkuriang harus dapat membuat danau agar perahu itu dapat berlayar. Deadline-nya? Sebelum fajar menyingsing dan ayam berkokok. Dengan konspirasi tingkat tinggi, Dayang Sumbi memohon agar deadline pembuatan perahu dipercepat sehingga para mahluk halus yang membantu Sangkuriang gagal membuat danau dan pernikahan itupun batal.

Dan kini, saat Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Soedarmo meminta pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh 2017 disahkan sebelum tahun 2016 berakhir, legenda itu seperti berulang. Tak serumit kisah dari Tanah Pasundan itu, memang, tapi tetap saja keinginan itu mustahil dilakukan jika Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh benar-benar menyusun anggaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat Aceh.

Bayangkan saja, Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) baru diserahkan beberapa hari lalu. Di lain pihak, Soedarmo berkeinginan agar DPR Aceh segera mengetuk palu tanda persetujuan. Dia berkeinginan agar lelang proyek 2017 segera dilaksanakan.

Sebagaimana keinginan Soedarmo, masyarakat tentu berharap APBA dapat disahkan tepat waktu. Apalagi roda perekonomian Aceh sangat bergantung pada hal ini. Namun yang lebih penting lagi, masyarakat ingin anggaran ini disusun sesuai dengan kebutuhan. Bukan sekadar salinan dari anggaran lama.

DPR Aceh juga bukan tukang stempel yang dapat seenaknya mengesahkan anggaran tanpa melewati proses kajian. DPR Aceh bukan Sangkuriang yang bisa meminta pertolongan makhluk halus untuk menyelesaikan tugas berat itu. Semua butuh kalkulasi dan manajemen anggaran yang matang. Termasuk dengan melibatkan publik dalam proses pembahasannya.

Alangkah bijaksana jika Soedarmo, sejak awal ditunjuk sebagai pelaksana tugas gubernur, fokus mengurusi anggaran dan memastikan pembahasan Qanun Susunan Organisasi Tata Kerja Aceh berjalan dengan baik. Sehingga, seluruh rangkaian pembahasan anggaran ini benar-benar berjalan dengan baik, sesuai dengan aturan tanpa mengabaikan hak-hak rakyat Aceh dan tepat waktu..

Kita tentu tak ingin anggaran Aceh bernasib sama seperti perahu Sangkuriang yang membatu dan tak pernah berlayar hanya karena tergiur untuk menikahi ibu kandungnya. Pemerintah Aceh dan DPR Aceh tak sedang membuat cerita rakyat. Ini adalah pemerintahan yang bertanggung jawab atas harkat, nyawa dan martabat jutaan rakyatnya.

Komentar

Loading...