Unduh Aplikasi

Aparat Hukum Didesak Usut Proyek Jalan Meulaboh-Tutut

Aparat Hukum Didesak Usut Proyek Jalan Meulaboh-Tutut
Kondisi jalan yang baru di aspal di Gampong Beuregang, Kec. Kaway XVI. Foto: Ist

BANDA ACEH - Pembangunan Jalan Meulaboh-Tutut di Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, diduga bermasalah. Pasalnya banyak ditemukan adanya kejanggalan dalam pembangunan jalan tersebut. Temuan itu dilandasi dari laporan masyarakat yang menemukan bahwa proyek pembangunan jalan dikerjakan asal jadi oleh kontraktor pelaksana.

Temuan itu disampaikan oleh Gerakan Anti Korupsi (GeRAK Aceh) bersama GeRAK Aceh Barat. Berdasarkan hasil investigasi lapangan menemukan fakta kalau proyek yang bersumber dana otonomi khusus tahun anggaran 2017, dimulai dari Gampong Beuregang, Tanjong Bungong, Putim, Meunasah Rambot, Cot Trueng, Alue On, dan Gampong Puuk, dengan anggaran Rp 4 miliar. Proyek dengan dengan panjang 2 kilo meter itu diduga gagal dalam proses pengerjaannya, sehingga menyebabkan beberapa titik yang dibangun mengalami kehancuran (aspal terkupas).

"Temuan ini ketika kawan-kawan GeRAK Aceh Barat meninjau ke lokasi pembangunan jalan. Misalnya di Gampong Alue On dan Puuk, hanya terlihat tumpukan material pasir kerikil disisi bahu kiri-kanan jalan. Begitu juga dengan lintasan pengaspalan dimulai dari Gampong Beuregang yang berjarak sekitar kurang lebih 100 meter, dan ketika memasuki Gampong Tanjong Bungong masih kelihatan hingga saat ini jalan berlubang dan tidak sama sekali dilakukan pengaspalan ulang oleh pihak pemegang proyek," kata Kepala Divisi Advokasi Korupsi GeRAK Aceh Hayatudin Tanjung didampingi Koordinator GeRAK Aceh Barat Edy Sahputra, Rabu (17/1).

Kondisi jalan Meulaboh-Tuntut yang baru sebulan selesai di aspal. Foto: ist

Kemudian, kata Hayatudin, di Gampong Beuregang terlihat aspal yang baru dikerjakan tersebut sudah hancur dan ini juga kelihatan aspal pertama sebelum jalan tersebut diperbaiki. Begitu juga dengan kondisi di jalan yang melintasi Gampong Putim hingga Gampong Cot Trung. Kondisi ini tidak bedanya dengan Gampong Beuregang, dengan konidisi jalan yang sudah diaspal tersebut mengalami kerusakan.

Menurutnya, aparat hukum perlu melakukan pengusutan terhadap proyek tersebut, pasalnya anggaran yang digunakan tidak sedikit. Apalagi proyek tersebut baru siap dikerjakan pada Desember 2017, namun sudah rusak kembali.

"Fakta ini sama dengan hasil tinjauan anggota DPRK Aceh Barat, bahwa pekerjaan pemeliharaan berkala ruas Jalan Meulaboh-Tutut dengan sumber dana Otonomi Khusus (Otsus) Tahun Anggaran 2017 yang dikerjakan oleh PT Citra Karsa dinilai tidak memenuhi standar kelayakan, dimana hampir seluruh ruas jalan yang diperbaiki tersebut mengalami keropos/kerusakan," ungkapnya.

Pihaknya sangat menyayangkan proyek yang baru saja selesai pengerjaannya itu. Padahal jalan yang diperbaiki itu merupakan ruas jalan yang menjadi urat nadi masyarakat Kecamatan Kaway XVI dan Kecamatan Sungai Mas.

Kondisi jalan Meulaboh-Tuntut yang baru sebulan selesai di aspal. Foto: ist

"Kami minta aparat penegak hukum untuk melakukan pengusutan terhadap pekerjaan yang dilakukan, mulai dari tahapan hingga akhir pekerjaan agar pekerjaan proyek dengan menggunakan dana Otsus tersebut menghasilkan kualitas yang sesuai dengan aturan yang berlaku," tegasnya.

Selain itu, Hayatudin menduga kondisi jalan dengan kualitas buruk disebabkan karena kualitas konstruksi yang buruk, spesifikasi penentuan dan pengawasan pekerjaan yang lemah.

"Seharusnya, perusahaan tersebut sebelum dilakukan overlay, maka mutlak dibutuhkan survey/pemeriksaan kondisi pada lokasi yang akan direhabilitasi dengan tujuan untuk menginventarisasi tingkat kerusakan dan menentukan jenis penanganan selanjutnya," jelasnya.

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...