Unduh Aplikasi

Antropolog: Tata Kepemimpinan Aceh Lemah dan Seperti Gado-Gado

Antropolog: Tata Kepemimpinan Aceh Lemah dan Seperti Gado-Gado
Teuku Kemal Fasha. Foto: Net

LHOKSEUMAWE - Dosen dan Antropolog Universitas Malikussaleh (Unimal), Teuku Kemal Fasya menyebutkan problem terbesar di Provinsi Aceh saat ini merupakan tata kepemimpinan yang lemah dan berpengaruh pada tata pemerintahan, sehingga akhirnya banyak hal terlihat salah di mata publik.

“Tata kepemimpinan (good leadership) harus dimulai dengan teladan, bukan dengan pelesiran. Banyak hal terlihat salah dalam kebijakan, itu memang hasilnya pola kepemimpinan yang lemah. Sehingga muncul panduan bentuk kata pemerintahan Aceh tidak berjalan kualitas seperti layaknya keinginan dari pemimpin,” katanya kepada AJNN, Sabtu (2/6).

Sambungnya, misalnya saat ini, Pemerintah Daerah dan kabupaten/kota sekarang mereka tidak menjadi diri sendiri, mereka seakan hidup di alam kerangkeng (penjara) dari kepentingan-kepentingan yang banyak, sehingga tidak mampu mengontrol akan kepentingan mana yang lebih penting.

“Pemerintah ini seperti boneka saja, tanpa ada integritas dirinya, jati diri sebagai seorang pemimpin ketika dikampanyekan sebelumnya itu sama sekali tidak terlihat. Ketika ada masalah atau kerumitan baik itu daerah atau kabupaten/kota, pemimpin kita mengambil jalan sendiri, dengan pergi keluar kota, jalan-jalan, untuk menghindari kerumitan dalam kepemimpinannya mereka,” ungkapnya

Mereka terlihat  tidak mampu dan tidak memiliki kekuatan sebagai seorang pemimpin untuk mengatasi masalah, sehingga tidak mampu memunculkan seperti program yang baik. Bahkan RPJM mereka itu sendiri tidak diwujudkan, jadi lebih memilih seperti gado-gado saja, sehingga jadi pemerintahan dengan kebijakan gado-gado..

“Hal yang paling menonjol saat ini, masyarakat tidak merasa kalau pemerintahan Aceh ini ada, pemerintahan ada secara formal, jadi secara kenyataan ( de facto) gagal untuk mensejahterakan publik dan memberikan keadilan kepada rakyat, serta gagal mengembangkan skema kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua masyarakat,” tuturnya.

Tak hanya sampai di situ, Teuku Kemal menambahkan, pemerintahan saat ini dilihat seperti berjalan untuk kepentinagn kelompok kecilnya atau dirinya sendiri saja, namun tidak mementingkan rakyat. Dalam hal ini rakyat rindu dengan pola kepemimpinan yang kuat, yang bisa memandu dan mengoreksi kalau kemudian terjadi suatu yang salah.

“Kita saat ini tidak mendengar suara pemimpin yang membanggakan, dan itu sama sekali tidak ada ditengah keributan daerah saat ini, yang bisa mengembirakan atau memberikan suatu penyelesaian dari kerumitan ini,” ujarnya.

Lanjutnya, dengan kondisi Pemerintahan Aceh yang tidak berdaya ini, ada kekuatan di luar yang lebih mengontrol pemerintahan dan mereka mengambil keuntungan yang cukup banyak dari pemerintahan boneka seperti ini, dan itu yang sangat disayangkan. Pemimpin dipilih secara publik melalui pilkada, namun secara the facto tidak berkuasa dengan gaya kepemimpinan yang kuat, akan tetapi yang dimiliki saat ini sudah seperti gado-gado.

“Pemimpin yang mengabdi pada rakyat saat ini tidak terlihat. Pemimpin saat ini harus banyak zikir, harus kuat fikir dan menggandakan kekuatan fikiran itu, untuk mencari inti kepentingan pembangunan bagi masyarakat dhuafa , sehingga tidak terkesan hanya sebagai pembangunan karikatif atau tempel-tempel doang, jangan perbanyak ongkir (ongkos kirim) artinya jalan-jalan yang tidak mementingkan untuk masyarakat atau rakyatnya,” pungkasnya.

Komentar

Loading...