Unduh Aplikasi

Anomali Ramadhana Lubis

Anomali Ramadhana Lubis
JARANG-jarang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh mendapatkan pujian. Apalagi dalam mengelola dana aspirasi. Kebanyakan, dana “perjuangan” anggota dewan untuk “konstituennya” itu menjadi tali asih antara si pemberi dengan orang-orang dekat saja. Kalaupun ada yang sampai ke masyarakat, jumlahnya tak seberapa besar dibandingkan dengan alokasi dana yang mencapai Rp 10 miliar per anggota dewan per tahun.

Tapi tidak Ramadhana Lubis. Total anggaran Rp 10 miliar yang diterimanya dialokasikan untuk membangun jembatan. Tidak hanya satu, tapi dua. Langkah Ramadhana ini membuat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh Zulkifli melontarkan pujian. Karena memang, apa yang dialokasikan ini benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.

Bisa saja Ramadhana mengalokasikan dana ini untuk hal lain. Seperti membangun lapangan voli, menyediakan seragam olahraga, atau membuat kegiatan yang menghabiskan dana sedikit, lantas dari panitia kegiatan, Ramadhana mendapatkan kick back yang jumlahnya cukup untuk mengongkosi kampanye untuk maju pada periode kedua.

Di tengah penolakan masyarakat terhadap keberadaan dana aspirasi, langkah Ramadhana ini seperti anomali. Namun perlu. Bayangkan, andai saja ke-81 anggota dewan kompak untuk membangun jembatan di daerah pemilihan masing-masing, dalam setahun akan terbangun 162 jembatan baru yang akan membuka keterisoliran masyarakat kampung. Hebatnya lagi, jembatan ini tersebar di 23 daerah di Aceh.

Tahun berikutnya, jika seluruh anggota dewan sepakat, mereka akan membangun pabrik es batu di daerah pesisir untuk memudahkan nelayan dalam meningkatkan nilai tangkapan mereka dan membangun cold storage di dataran tinggi bagi petani untuk menyimpan hasil sayur mereka. Bayangkan betapa besar efek yang akan dirasakan oleh masyarakat Aceh dalam setahun.

Berpikir untuk kepentingan masyarakat inilah yang harus dilakukan oleh anggota dewan. Mencari akar permasalahan dan membantu warga, dengan wewenang dan anggaran di tangan mereka, akan mengatasi kesusahan serta dapat membangkitkan ekonomi warga. Langkah ini mungkin bisa dilanjutkan dengan mengurangi perjalanan dinas, terutama ke luar negeri dan mulai mengalokasikannya untuk membantu membangun industri kecil dan industri kreatif di Aceh yang saat ini kondisinya seperti mayat hidup.

Ramadhana memang hanya satu orang. Namun dengan kemauan yang dimilikinya--serta empati kepada masyarakat, dia dapat melakukan perubahan. Dan memang itu harus dilakukan dari diri sendiri. Jangan pula dianggap langkah Ramadhana ini sebagai sebuah hal berlebihan.

Ramadhana bukan jagoan. Ini adalah sesuatu yang harus dilakukan. Dia juga tak bisa melangkah sendirian. Dia perlu dukungan dari masyarakat. Mudah-mudahan langkah ini dapat memunculkan Ramadhana-Ramadhana lain di DPR Aceh; orang-orang yang mau berpikir di luar kebiasaan. Dan memilih langkah yang harus ditempuh, bukan sekadar melangkah.

Komentar

Loading...