Unduh Aplikasi

Aniaya Polisi Pakai Pedang, Pemuda di Aceh Utara Dibekuk

Aniaya Polisi Pakai Pedang, Pemuda di Aceh Utara Dibekuk
Polisi memperlihatkan pelaku dan barang bukti. Foto: AJNN/Sarina. 

ACEH UTARA – Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe membekuk ZF (29) pemuda asal Gampong Geulumpang, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara. ZF ditangkap karena terlibat kasus penganiayaan terhadap personel polisi jajaran Polsek Meurah Mulia. Selain menganiaya korban, pelaku juga merampas satu unit handphone.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto mengatakan, dua pekan lalu korban sedang bertugas piket di Polsek Meurah Mulia, saat itu korban menerima telepon dari keuchik gampong Geulumpang untuk menertibkan remaja yang bermain wiFi hingga larut malam di warung.

“Kemudian korban bersama perangkat desa setempat langsung bergerak ke warung untuk, pada saat hendak membubarkan, tiba-tiba pelaku datang, kemudian berteriak dan meminta anak-anak di warung tersebut berbaris,” kata Kapolres didampingi Kasat Reskrim Iptu Yoga Panji Prasetya saat konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Senin (25/1).

Sambung Kapolres, kemudian pelaku mengejar semua orang yang ada di kafe, dan juga mengejar korban yang berseragam Polisi, saat lari korban terjatuh, kemudian pelaku langsung memukul korban (bukan membacok) menggunakan pedang samurai tersebut hingga tak berdaya.

“Kemudian pelaku meninggalkan korban, saat korban meminta tolong, pelaku kembali lagi dan memukul korban, serta merampas handphone miliknya, dengan mengatakan akan membunuh korban,” tuturnya.

Akibat pemukulan itu lanjut Kapolres, korban mengalami luka memar dibeberapa bagian tubuh, antara lain paha sebelah kiri terkilir, pinggang sakit, jalan pincang, dan trauma.

“Setelah dilakukan penyelidikan dan penyidikan dengan bukti-bukti yang ada, pelaku berhasil dibekuk kemarin (24/1) di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

“Dari hasil penyelidikan, tersangka memukul korban karena kesal melarangnya bermain wifi di kafe itu. Barang bukti yanga diamankan yakni pedang samurai dan satu unit handphone,” jelasnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbutan, tersangka di jerat Pasal 365 ayat 1 dan 2 ke 1e, ke 2e subside Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Darurat Republik Indonesia nomor 12 tahun 1951 subsider Pasal 351 KUHPidana.

“Hukuman penjara maksimal 12 tahun penjara atau hukuman 10 tahun penjara atas kepemilikan senjata tajam,” imbuhnya.

Komentar

Loading...