Unduh Aplikasi

Angkutan Udara, TK, Daging dan Ikan Penyumbang Inflasi Terbesar di Lhokseumawe

Angkutan Udara, TK, Daging dan Ikan Penyumbang Inflasi Terbesar di Lhokseumawe
Ilustrasi. Foto: Net

LHOKSEUMAWE – Angkutan Udara, Taman Kanak-Kanak, daging ayam ras dan sejumlah jenis ikan menyumbang inflasi terbesar di Kota Lhokseumawe pada September 2020. Hal itu berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) daerah setempat.

Kepala KPwBI Lhokseumawe Yukon Afrinaldo mengatakan, Kota Lhokseumawe pada bulan September 2020 tercatat mengalami inflasi atau peningkatan harga barang dan jasa secara umum sebesar 0,24 persen (month to month / mtm). Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi pada bulan Agustus 2020 sebesar 0,30 persen (mtm).

“Inflasi Kota Lhokseumawe pada September 2020 menjadi yang paling tinggi dibandingkan duan kota lainnya yang menjadi perhitungan inflasi di Provinsi Aceh,” kata Yukon, Senin (5/10).

Sambungnya, dua kota tersebut yaitu Kota Banda Aceh tercatat deflasi sebesar (-) 0,32 persen (mtm) dan Meulaboh tercatat inflasi sebesar 0,15 persen (mtm). Secara keseluruhan, Provinsi Aceh mengalami deflasi sebesar (-)0,10 persen(mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,46 persen (mtm). Secara nasional, pada bulan Agustus 2020 terjadi deflasi sebesar (-)0,05 persen (mtm).

“Berdasarkan perkembangan tersebut maka inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada Agustus 2020 mencapai 1,67 persen (year on year/yoy) atau berada di bawah kisaran sasaran inflasi Pemerintah sebesar 3,0% ±1 persen (yoy),” ujar Yukon.

Yukon menambahkan, Inflasi Kota Lhokseumawe pada bulan September 2020 terutama bersumber dari peningkatan harga pada kelompok Transportasi dengan andil 0,22 persen dan kelompok Pendidikan dengan andil sebesar 0,12 persen.

“Lima komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi terbesar di Kota Lhokseumawe adalah angkutan udara (andil: 0,22 persen), taman kanak-kanak (0,09 persen), daging ayam ras (0,07 persen), ikan kembung (0,04 persen), dan ikan tuna (0,03 persen),” jelasnya.

Peningkatan harga tersebut, terutama dipengaruhi oleh penyesuaian tarif tiket pesawat sehubungan physical distancing, penyesuaian biaya uang sekolah TK, dan penyesuaian harga DOC sehubungan dengan permintaan daging ayam ras yang masih lemah. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada komoditas minyak goreng didorong oleh kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO).

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi diantaranya ikan tongkol (andil: -0,17 persen), pisang (-0,03 persen), udang basah (-0,03 persen), ikan biji nangka (-0,03 persen) dan emas perhiasan (-0,03 persen).

“Penurunan harga terutama yang terjadi pada ikan tongkol akibat hasil tangkapan nelayan yang lebih didominasi jenis ikan tongkol dan ikan biji nangka dibandingkan bulan sebelumnya, serta harga emas menurun mengikuti harga emas dunia yang melandai,” ungkapnya.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. Kegiatan pengendalian inflasi antara lain dilakukan berkaitan dengan antisipasi gejolak harga menjelang perayaan Maulid Nabi dan akhir tahun 2020.

“Pengendalian inflasi dilakukan dengan menjaga 4 aspek yaitu Ketersediaan Barang, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi yang Efektif,” imbuhnya.

Komentar

Loading...