Unduh Aplikasi

Angin Segar dari Pendopo

Angin Segar dari Pendopo
ANGIN segar berhembus dari kediaman resmi Gubernur Aceh. Saat Abu Razak---nama alias Kamaruddin Abubakar--sowan kepada seniornya di Gerakan Aceh Merdeka, Zaini Abdullah, Gubernur Aceh.

Meski mengaku tak membahas urusan politik, pertemuan ini pantas dimaknai dengan positif. Di Partai Aceh, Zaini Abdullah masih tercatat sebagai anggota Tuha Peut. Bersama Zakaria Saman dan Malik Mahmud, mereka masih menjadi generasi terdekat dengan Wali Nanggroe Tengku Hasan Ditiro--Allahuyarhamhu--saat memperjuangkan nilai-nilai Gerakan Aceh Merdeka dari luar negeri.

Bahkan Abu Razak menggambarkan pertemuan itu sebagai silaturahmi anak dan bapak. Sangat akrab. Dia mengaku meminta maaf atas sejumlah perbedaan pemahaman yang kerap muncul dalam pengambilan kebijakan, baik di tingkat pemerintahan, dengan Wakil Gubernur Aceh dan juga Ketua Partai Aceh, Muzakir Manaf, yang merembet pada kisruh antara Tuha Peut dan sejumlah pengurus partai bentukan GAM itu.

Pertemuan ini hendaknya tidak dijadikan sebagai konsumsi politik berlebihan. Wajar saja jika mereka bertemu, karena memang mereka sama-sama dilahirkan dari “rahim” yang sama, GAM. Sebuah perjuangan panjang yang mengantarkan Aceh kini lebih istimewa, bukan sekadar ucapan saja. Perjuangan ini mengorbankan banyak pihak. Baik mereka yang terlibat langsung dalam konflik atau mereka yang terhimpit di tengah-tengahnya.

Kita tentu berharap pertemuan ini menjadi sebuah perjumpaan politik yang mampu meredam gesekan yang mungkin terjadi, terutama memasuki tahun politik. Bekas kombatan GAM masih tetap menjadi poros tarik-menarik massa yang menentukan suara para petarung di Pemilihan Kepala Daerah 2017. Pertemuan resmi “dua pihak” ini tentu akan membawa angin segar yang mendinginkan tensi politik yang mulai memanas.

Namun satu hal yang tak boleh dilakukan oleh Zaini usai pertemuan ini adalah memberikan perlindungan terhadap kemungkinan dugaan tindak pidana korupsi melibatkan pengurus partai, baik yang ada di daerah ataupun di tingkat pusat. Apapun namanya, pondasi pembangunan Aceh harus diletakkan di atas nilai-nilai kejujuran, dan keikhlasan. Serta keberanian dan kesiapan untuk menatap Aceh di masa depan yang lebih modern dan manusiawi. Karena di sana lah kelak, bangsa Aceh akan berdiri.

Komentar

Loading...