Unduh Aplikasi

Ancaman dari Atas Bak Terbuka

Ancaman dari Atas Bak Terbuka
ilustrasi: Lang's Old Car Parts

IDUL Fitri kali ini menjadi momentum yang menyedihkan bagi korban dan keluarga korban kecelakaan di Gunung Geurutee. Kemarin, sebuah kendaraan bak terbuka yang mengangkut orang di atasnya tergelincir. Empat orang dinyatakan meninggal dunia.

Tidak tanggung-tanggung, total korban dalam kecelakaan itu mencapai 20 orang termasuk yang mengalami luka ringan dan berat. Petugas dan beberapa warga mencoba mengeluarkan para korban dari sisi jurang yang terjal dengan peralatan seadanya.

Geurutee memang daerah yang rawan kecelakaan. Dan potensi itu semakin besar saat kendaraan-kendaraan bak terbuka mengangkut orang di atasnya dalam kapasitas berlebihan. Saat kondisi kendaraan normal saja, di saat jalan tidak basah, jalan itu cukup sulit dilewati karena sempit. Di satu sisi gunung batu, di sisi lain jurang terjal.

Di Aceh, pemandangan sebuah kendaraan bak terbuka mengangkut banyak orang masih menjadi kewajaran. Tidak hanya di saat Idul Fitri atau Idul Adha, saat orang ramai-ramai bersilaturahim dari satu tempat ke tempat lain, pada saat mengantar pengantin atau hari-hari besar, hal seperti ini juga lazim terlihat.

Apalagi saat ini tak banyak alat transportasi massal yang bisa digunakan masyarakat. Terutama di luar Banda Aceh. Selain menggunakan becak mesin, kendaraan bak terbuka adalah salah satu moda transportasi yang tersedia dan murah untuk digunakan masyarakat sebagai alat angkut.

Kendaraan bak terbuka, dalam aturan, masuk dalam kategori jenis mobil barang. Kendaraan ini hanya bisa digukana mengangkut penumpang saat kondisi darurat, seperti alasan geografis atau prasarana jalan yang tidak memadai. Selain untuk kepentingan khusus kepolisian atau militer.

Artinya, kendaraan bak terbuka tidak boleh mengangkut penumpang. Untuk membawa penumpang, kendaraan yang diperbolehnya hanya kendaraan penumpang, seperti minibus atau bus. Di beberapa daerah, seperti di Jakarta, bahkan becak sudah tidak boleh beroperasi. Hal ini sangat terkait dengan pertimbangan keselamatan.

Alasannya jelas. Kendaraan bak terbuka tidak memiliki standar untuk melindungi penumpang yang duduk di bagian belakang. Gambaran betapa berbahayanya duduk di bagian belakang kendaraan bak terbuka tergambar jelas dalam video yang direkam oleh korban kecelakaan antara kendaraan jenis itu dengan sebuah bus antarprovinsi di kawasan Pidie Jaya, beberapa waktu lalu.

Namun untuk melarang masyarakat Aceh menggunakan kendaraan bak terbuka tentu sulit. Apalagi ini sangat terkait dengan budaya. Dalam adat Aceh, berkunjung dari satu gampong ke gampong lain adalah adalah kebiasaan. Masyarakat membutuhkan angkutan yang cepat dan murah untuk mengantarkan mereka.

Karena itu, pemerintah daerah dan kepolisian perlu memberikan pengajaran kepada masyarakat untuk tidak lagi menggunakan kendaraan bak terbuka sebagai angkutan massal. Tapi hal ini tidak pula harus dilakukan dengan cara-cara yang ketat dan menakutkan. Masyarakat harus diajak peduli dan mau memperhatikan keselamatan di jalan, terutama keselamatan diri sendiri.

iPustakaAceh
Ucapan Selamat Pelantikan DPRA - Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...