Unduh Aplikasi

Anak Muda Menggeser Peran Generasi Tua di Panggung Golkar Aceh

Anak Muda Menggeser Peran Generasi Tua di Panggung Golkar Aceh
Pemerhati politik dan sosial, Sayuti Muhammad Nur. Foto: For AJNN

BANDA ACEH - Kepengurusan baru Partai Golkar, khususnya DPD II di beberapa kabupaten/kota di Aceh, saat ini banyak diisi oleh anak muda. Mereka bukan hanya menjadi pengurus biasa, tapi menjadi ketua DPD.

Pemerhati politik dan sosial, Sayuti Muhammad Nur menilai terpilihnya beberapa anak muda sebagai ketua partai melalui beberapa Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Golkar menunjukkan perubahan kondisi di belakang dan di atas panggung politik Golkar Aceh.

Ada beberapa catatan penting yang dikemukakan tokoh muda asal Aceh Utara yang saat ini menetap di Banda Aceh itu. Menurut Sayuti, pensiunnya karir politisi tua dari pertarungan merebut posisi ketua, karena politisi senior saat ini ingin berada di belakang panggung untuk mengatur estafet berikutnya.

Selain itu, kondisi logistik (finansial) mereka saat ini sudah seret. Hal ini disebabkan karena rata-rata dari mereka sudah pensiun dari parlemen atau kalah saat perebutan kekuasaan eksekutif saat pilkada beberapa waktu lalu.

Kemudian ada juga faktor regenerasi. Kondisi ini bisa dengan terkait hubungan keluarga, latar belakang daerah pemilihan (Dapil), hubungan kaderisasi organisasi dan sudah “selesainya” kesepahaman antara senior dengan junior yang mereka dukung.

"Selain itu, anak-anak muda yg berangkat dari keluarga mapan secara ekonomi lalu terjun ke kancah politik juga dianggap semacam “Swab Engine” untuk partai Golkar," kata Sayuti kepada AJNN, Rabu (12/8) melalui sambungan telepon dari Banda Aceh.

Kata Sayuti, hal lain yang tidak kalah penting adalah politisi muda yang memiliki latihan memadai sejak di kampus, organisasi kader, rajin membangun jaringan dan menjadi “kesayangan” banyak senior serta teman-temannya. Biasanya ini akan memiliki karir yang awet di dunia politik.

"Saya melihat rata-rata yang terpilih sudah melalui proses kaderisasi minimal 1 periode sesuai dengan juknis, tidak ada lagi model “surat diskresi” dari pimpinan diatasnya," ujarnya.

Ia juga mengatakan syarat utama menjadi ketua partai politik, apalagi di Golkar adalah kemapanan. Baik mapan ekonomi, mapan ilmu pengetahuan, sekaligus mapan secara emosional.

Dirinya juga menilai tensi politik saat Musda DPD II kali ini sedikit menurun dibandingkan musda pada periode sebelumnya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pandemi covid, lesunya ekonomi pasca munas dan musda DPD I Golkar Aceh.

"Hal ini tentu saja akan memuluskan jalan bagi politisi lapis kedua Golkar yang sedang meniti karir menggantikan para senior mereka," kata Sayuti.

Komentar

Loading...