Unduh Aplikasi

Alur Sungai Ditutup, Puluhan Warga di Aceh Timur Merasa Dirugikan

Alur Sungai Ditutup, Puluhan Warga di Aceh Timur Merasa Dirugikan
Foto : For AJNN

ACEH TIMUR -  Puluhan warga Gampong Meunasah Hasan, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur mendatangi lokasi alur sungai yang ditutup di daerah setempat. Akibat penutupan alur tersebut mata pencarian penduduk dinilai jadi terganggu.

Kurang lebih 30 warga yang merasa dirugikan mendatangi lokasi itu, mereka mengaku selama ini kesulitan untuk mencari rezki, baik itu ikan, kepiting dan lainnya selama alur tambak tersebut ditutup.

Alur sungai yang ditutup panjangnya kurang lebih 1.200 meter dan lebar 25 meter. Penutupan itu dilakukan setelah Keuchik Gampong setempat atas nama Bakhtiar diduga menjualnya (ganti rugi) ke pihak ke tiga tepatnya pada tahun 2019 lalu.

Informasi yang diterima AJNN, awalnya sungai tersebut merupakan daerah kawasan Hutan Mangrove, kemudian dibabat untuk dijadikan tambak. 

Menurut warga, Keuchik Gampong tersebut berjanji, dua bulan setelah penyelesaian pada bulan Maret 2020 lalu akan membukanya, akan tetapi hingga saat ini tak kunjung dilakukan.

Salah seorang perwakilan warga Meunasah Hasan, Muhammad Arif kepada AJNN mengatakan, alur tersebut  bukan milik pribadi Keuchik Gampong Meunasah Hasan, Namun milik negara. Akan tetapi menurut warga setempat, keuchik menjualnya (ganti rugi) kepada pihak ketiga dengan nilai Rp25 juta.

“Kami sudah pernah membuat Laporan ke Polsek Madat, dan meminta Kapolsek untuk turun ke lokasi. Sehingga kami melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolsek dengan harapan laporan kami  ditanggapi,” kata Arif melalui telepon seluler, Rabu (7/10).

Sambung Arif, setelah aksi unjuk rasa itu dilakukan warga, Kapolsek berjanji akan turun ke lokasi  bersama Koramil. Akan tetapi, hingga Kapolsek dimutasi, janji tersebut tidak dipenunih dan laporan warga belum ditanggapi hingga saat ini.

“Kita meminta, jika pun tidak bisa diselesaikan secara hukum, namun alur itu bisa dibuka kembali, agar masyarakat bisa kembali mencari rezeki, karena ketika sudah dijadikan tambak, masyarakat yang ingin mencari ikan dan kepiting, dibatasi, sebab ada budidaya ikan milik orang lain di kawasan tersebut,” ujarnya.

Menurut Arif, warga dari sejumlah desa yang ada di Kecamatan Madat, menjadikan lokasi itu tempat mencari pendapatan, namun jika ditutup, pihaknya mengaku pendatapan berkurang.

Keuchik Gampong Meunasah Hasan, Bakhtiar saat dihubungi AJNN membantah hal tersebut, menurutnya alur selama ini tidak berfungsi, bahkan katanya bukan satu alur di desa Meunasah Hasan, akan tetapi sangat banyak yang sudah ditutup menjadi tambak.

“Alur itu  ditutup namun di buka lain, kami punya data dan sudah dimusyawarahkan hal dengan Tuha Peut,” kata Keuchik kepada AJNN.

Sambung Keuchik, kalau mereka (warga) merasa terganggu, setidaknya ada masyarakat datang ke dirinya (keuchik) untuk menanyakan, Alur sudah ditutup dan masyarakat dirugikan, namun menurutnya hingga kini belum ada satu orangpun yang datang.

“Memang benar ada kita terima uang Rp25 juta, namun uang itu untuk desa dan sisanya untuk pembangun yang dibutuhkan,” jelasnya, saat ditanyakan harga ganti rugi alur bernilai puluhan juta yang diterima dan tanpa diberitahukan kepada warga.

Komentar

Loading...