Unduh Aplikasi

Alumni UGM Yogyakarta: Kasus Penikaman Ustadz di Aceh Tenggara Tamparan Tuhan untuk Kita

Alumni UGM Yogyakarta: Kasus Penikaman Ustadz di Aceh Tenggara Tamparan Tuhan untuk Kita
Foto: Ist

ACEH TENGGARA - Masri Amin, alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta angkat bicara terkait kasus penikaman Ustadz Muhammad Zaid Maulana yang terjadi saat mengisi ceramah maulid Nabid Muhammad SAW di Masjid Desa Kandang Blang Mandiri, Kecamatan Lawe Bulan, Aceh Tenggara, Kamis malam (29/10).

Menurut Masri, kasus penikaman tersebut sebagai tamparan Tuhan untuk kita semua. Karena korban merupakan seorang Ustadz.

Masri mengaku sangat kenal dengan sosok Ustadz Zaid. Menurutnya, Ustadz Zaid sering dipercayakan menjadi Khatib Jum'at di desa dirinya tinggal yaitu Desa Lawe Sagu Hilir, Kecamatan Lawe Bulan, Aceh Tenggara. 

Baca : Ustadz Zaid Ditikam Saat Ceramah di Aceh Tenggara

Selain Ustadz Zaid, Masri juga mengaku  cukup mengenal pelaku penikaman Ustazd Zaid berinisial MA (pecatan Polri). 

"Selain ustadz, sebenarnya telah banyak korban dalam bentuk kekerasan lain ulah pelaku, namun dianggap biasa. Laporan ke- Kepolisian telah sering, namun tak berjalan 'normal' dan terkesan diendapkan tak di gubris," kata alumnus jebolan S2 jurusan Ilmu Politik, Politik Lokal dan Otonomi Daerah di UGM Yogyakarta itu.

Masri menyebutkan, banyak kasus yang dilakukan oleh pelaku, namun warga diam dan tak berani bertindak. Kelakuan pelaku luar biasa parah di desanya, bahkan orang tuanya kewalahan dan tak mampu lagi mengontrolnya. Hingga secara ekonomi habis terkuras atas prilaku tersangka.

"Allah kali ini menampar kita semua atas efek narkoba 'sabu-sabu' dan lainnya yang bebas beredar seperti seakan terjadi pembiaran bak jualan kacang goreng. Bahkan di desa, bandar narkoba beroperasi seperti pasar bebas tanpa hukum disana. Kita lumpuh dan tuna kuasa atas narkoba," ujar Masri.

Menurut Masri, pelaku pernah tinggal lama, dengan jarak kurang lebih 30 meter dari batas tambak dirinya. Rumah tempat pelaku tinggal, kata Masri, seperti markas pesta narkoba dan sex bebas, bahkan sudah diketahui oleh umum. 

"Pelaku dapat disebut masih kerabat, diluar sebagai tetangga. Ibunya berasal dari desa saya," kata Masri.

Sebagai tetangga tempat usaha, Masri mengaku cukup resah. Baik siang, terutama malam cukup berisik dengan dentuman musik seperti di club malam,  laki perempuan silih berganti bertandang ke tempat pelaku.

Sangking parahnya, kata Masri, aparatur dan warga desa tak ada yang berani melarang. Dapat diduga, oknum polisipun ikut membiarkannya dan mungkin juga tidak berani atau ada yang ikut di tempat hura-hura itu.

"Pemecatan pelaku dari anggota Polri semata tindakan hukuman struktural saja. Sebelum dipecat, kalau tidak salah dia pernah di rehab atas ketergantungan narkoba di Jawa Barat. Dan setelah tidak lagi menjadi polisi, prilakunya makin hari makin parah dan brutal tanpa tindakan substansial dari aparat berwenang," tutur Masri.

Masri mengaku berani dan bisa bercerita tentang pelaku karena 'penjaga' tambak (kolam) dirinya sering mendapat teror dari pelaku.

"Tengah malam minta rokok lah, minjam koreklah. Bahkan salah seorang rekan penjaga kolam yang masih berstatus pelajar, pernah disiksa dengan cara direndam dan dipukuli. Kejadian ini pernah dilaporkan ke kepolisian, namun dianggap angin lalu," kata Masri.

Masri mengatakan, kasus penikaman Ustazd Zaid juga salah satu cara Allah menegur kita selaku umat-Nya akibat pengaruh narkoba. 

"Kejadian ini puncak gunung es atas kejadian lain yang telah banyak korban,  dan didiami tak berani bertindak. Namun kejadian ini cukup disayangkan korbannya adalah Ustadz Zaid dan momentnya Maulid. Kalau tidak, siapa yang akan peduli atas tekanan psikologis warga sekitar selama bertahun-tahun terkait prilaku korban," tambah Masri.

Masri menduga peredaran luas narkoba seperti dibiarkan di Aceh Tenggara dan dikategorikan "Darurat Narkoba". 

"Narkoba telah merambah seluruh desa bak dana desa. Banyak generasi muda rusak parah. Kriminalitas meningkat dan seluruh warga desa satu kabupaten resah. Dan anehnya, warga pun menganggap biasa tanpa ada tindakan kultural," ungkapnya.

Bahkan, Masri mengsinyalir oknum aparat kepolisian, khususnya dari Satresnarkoba menggangap narkoba adalah lahan basah, sehingga banyak yang ingin bertugas disana. 

Komentar

Loading...