Unduh Aplikasi

Alasan Covid-19 dan Sakit, Tiga Saksi Kasus Korupsi Telur Ayam Tidak Dapat Dihadirkan

Alasan Covid-19 dan Sakit, Tiga Saksi Kasus Korupsi Telur Ayam Tidak Dapat Dihadirkan
Sidang lanjutan korupsi penjualan telur ayam. Foto; AJNN/Tommy

BANDA ACEH - Sidang kasus korupsi hasil penjualan telur ayam di Dinas Peternakan Aceh dengan kerugian negara mencapai Rp2,6 miliar kembali digelar di Pengadilan Tipikor Banda Aceh, Rabu (8/7).

Namun, dalam persidangan kali ini, penuntut umum tidak dapat menghadirkan tiga saksi dalam sidang lanjutan dengan alasan sakit dan pandemi covid 19.

Hadir dalam persidangan tersebut terdakwa Ramli Hasan dan Muhammad Nasir. Keduanya hadir ke persidangan didampingi penasihat hukumnya.

Sedangkan jaksa penuntut umum (JPU) Ronald Reagan dan kawan-kawan dari Kejaksaan Negeri Aceh Besar.

Baca: Hakim Tanya Berapa Jumlah Ayam dan Hasil Penjualan Telur, Kadis Peternakan Aceh Tidak Tahu

Dalam persidangan, penuntut umum menyampaikan kepada majelis hakim yang dipimpin Dahlan, bahwa dua saksi dari PT Mabar Feed Indonesia yang berkedudukan di Sumatera Utara atas nama Suwarti Rahman dan Michael Thomas tidak bisa hadir ke persidangan.

Sedangkan saksi Cut Mutia Marlyana selaku Kabid Pembendaharaan I di Badan Pengelola Keuangan Aceh tidak dapat hadir karena dalam keadaan sakit.

"Karena Sumatera Utara zona merah covid 19, kedua saksi tidak bisa kita hadirkan. Sementara Cut Mutia tidak bisa hadir karena sedang menjalani kemoterapi," kata penuntut umum kepada majelis hakim.

Atas pertimbangan, majelis hakim mempersilahkan penuntut umum membacakan keterangan kedua saksi dari PT Mabar Feed Indonesia yang tertuang dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

Baca: Hakim Perintahkan Jaksa Hadirkan Mantan Kadis Peternakan Aceh

Dalam BAP yang dibacakan penuntut umum, kedua terdakwa Ramli Hasan dan Muhammad Nasir pernah melakukan pembelian pakan ternak ke PT Mabar Feed Indonesia.

Pembayaran pembelian pakan itu langsung ditransfer langsung ke rekening perusahaan PT Mabar Feed Indonesia dengan jumlah bervariasi.

"Ada beberapa pembeli pakan ternak ke PT Mabar oleh saksi Muhammad Nasir. Pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening perusahaan. Begitu juga dengan terdakwa Ramli Hasan," kata penuntut umum.

Saat penuntut umum ingin membacakan keterangan saksi Cut Mutia, Junaidi penasihat hukum terdakwa Muhammad Nasir menolak untuk dibacakan kesaksian Cut Mutia.

Penasihat hukum terdakwa Muhammad Nasir meminta kepada majelis hakim, agar saksi Cut Mutia dapat dihadirkan ke persidangan untuk didengarkan kesaksiannya.

Menurut Junaidi, kesaksian Cut Mutia di persidangan sangat penting untuk menjelaskan boleh tidaknya penggunaan langsung dana hasil penjualan telur untuk pembelian pakan ternak.

Selain itu, keterangan yang bersangkutan diperlukan terkait ada tidaknya praktik penggunaan langsung pendapatan di setiap UPTD di dinas lainnya.

"Menurut kami dari kuasa hukum terdakwa, menghadirkan saksi dari Kabid pembendaharaan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh sangat diperlukan. Jadi, kami memohon kepada majelis agar saksi dapat dihadirkan pada persidangan selanjutnya," sebut Junaidi.

Mendengar keberatan dari kuasa hukum terdakwa, majelis hakim diketuai Dahlan memerintahkan kepada penuntut umum untuk dapat menghadirkan Cut Mutia pada sidang berikutnya pada 10 Juli 2020.

"Saya minta kepada penuntut umum Cut Mutia bisa di hadirkan pada sidang nanti. Jika yang bersangkutan dalam keadaan sakit tolong dilampirkan surat keterangan dari dokter," kata ketua majelis hakim pengadilan Tipikor Banda Aceh.

Komentar

Loading...