Unduh Aplikasi

Akibat kurang biaya, tumor ganas tutupi wajah Darliana

SIMEULUE-Darliana hanya bisa berbaring di atas kasur yang ditutupi kelambu putih. Tumor ganas yang berada di wajahnya telah menutupi mata sehingga rata dengan hidungnya.

Ibu dari empat anak ini tidak bisa makan seperti layaknya orang biasa. Makanan bubur hanya bisa disuapi, setiap sendok bubur harus dibarengi dengan air minum jika menyantap makanan. Sebab, tumor yang berada di wajah Darliana telah merusak mulut, hidung hingga tenggorokannya. Tidak hanya itu, tumor juga menyerang bagian payudara sebelah kanannya.

Saat dikunjungi wartawan AJNN.NET, Senin (29/12) kemarin di kediamannya yang berada di Desa Angkeo, Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, Aceh. Darliana sedang berbaring di lantai semen yang dilapisi kasur tanpa ditemani anak atau suaminya. Maini tetangganya bertanya, "Dar, ada tamu mau ketemu. Apa bisa mereka ke dalam?" Darliana hanya bisa mempersilahkan masuk, "Pintunya tidak dikunci. Bawa saja masuk ke dalam Maini!" pintanya.

Dari dalam kelambu terdengar suara Darliana yang meminta maaf, "Maaf saya tidak bisa duduk apalagi berdiri. Begini lah kondisi saya hampir setahun ini," keluh Darliana kepada media ini sebelum menceritakan penyakit yang dideritanya.

Dari cerita istri Zulhasmi ini penyakit itu bermula saat dia melerai kakak iparnya yang hendak memukulkan bangku ke tubuhnya sendiri. Darliana tidak menyangka upaya menghindari bangku agar tidak mengenai tubuh kakak iparnya, akhirnya mengenai wajahnya. Benturan kursi tadi mengakibatkan bengkak di bagian wajah sebelah kanan, tepatnya di bawah mata sebelah kanan. Kejadian itu terjadi pertengahan April tahun ini.

Luka yang mengakibatkan bengkak itu hanya diobati dengan cara dikompres. Setelah beberapa hari luka tadi mengakibatkan lubang hidung tersumbat. "Terasa seperti ada daging tumbuh berada di dalam hidung saya," ujar Darliana.

Akhirnya, Darliana memeriksakan penyakitnya ke peraktek bidan yang berada di Lasikin yang jaraknya berkisar 6 km dari kediamannya. Namun, bidan tersebut tidak bisa berbuat banyak dan menyarankan Darliana ke RSUD yang berada di kota Sinabang sekitar 4 km perjalanan.

Hari itu juga, didampingi sang suami, Darliana mengunjungi RS setempat. Seperti halnya bidan, dokter di RS juga tidak bisa berbuat banyak karena penyakit Darliana berkaitan dengan bagian telinga hidung tenggorokan (THT). Sedangkan fasilitas dan dokter THT belum ada di rumah sakit tipe C tersebut.

"Oleh dokter rumah sakit saya disarankan untuk dirujuk ke RS Zainal Abidin, Banda Aceh," tutur Darliana.

Menyahuti saran pihak rumah sakit, ibu kelahiran 20 Agustus 1970 ini menjalani pengobatan di RS Zainal Abidin. Sebulan lamanya berada di Banda Aceh dengan pengobatan rawat jalan, akan tetapi tidak menyembuhkan penyakit Darliana. Seiring waktu penyakit kian membesar hingga RS Zainal Abidin merujuk ke RS Adam Malik yang berada di Medan.

"Fasilitas rumah sakit di Banda Aceh termasuk kurang lengkap hingga disarankan ke Adam Malik untuk dirujuk," imbuh Darliana.

Di RS Adam Malik, tumor yang berada di wajah Darliana berhasil dioperasi. Kendati demikian, dokter menyarankan Darliana menunggu selama 7 minggu untuk dilakukan tindakan penyinaran laser terhadap tumor yang berada di bagian hidungnya.

"Sebulan sudah mengikuti rawat jalan di Adam Malik, dan kami diminta bersabar menununggu di Medan 7 minggu lagi untuk disinar laser. Tapi, karena uang tidak ada lagi, terpaksa kami pulang ke kampung," ulasnya.

10 hari di kampung halaman, tumor di wajah Darliana kian membesar. Tadinya mata masih bisa berfungsi melihat, perlahan-lahan tertutup tumor. Begitu pun mulutnya membengkak hingga rata dengan ketinggian hidung dan jidad.

Selain itu, tumor ganas juga menggerogoti payudaranya sebelah kanan hingga tampak besar sebelah. Penyakit itu akhirnya menyebabkan Darliana harus terbaring di atas kasur hingga sekarang.

Kini keluarga Darliana tidak tahu harus berbuat apa. Kendala ekonomi membuat mereka hanya bisa berdiam diri. Sang suami yang bekerja sebagai petani tidak mampu lagi melanjutkan pengobatan istrinya. Bahkan, untuk membiayai kebutuhan ke empat anak mereka terasa sulit. Terutama biaya putrinya yang sedang kuliah di Universitas Muhammadyah Aceh jurusan Psikologi semester 7.

Keluarga Darliana berharap adanya perhatian dari Pemda setempat untuk dapat melanjutkan pengobatan. Namun, mereka tidak tahu bagaimana caranya agar dibantu oleh pemda setempat.

SEPTIAN ANTONI

Komentar

Loading...