Unduh Aplikasi

KASUS EDHY PRABOWO

Akhirnya Amiril Mukminin dan Andreau Pribadi Misata Menyerahkan Diri

Akhirnya Amiril Mukminin dan Andreau Pribadi Misata Menyerahkan Diri
Konferensi pers penyerahan diri tersangka kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster Amiril Mukminin dan Andreau Pribadi di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 26 November 2020. Foto: Screenshot video YouTube KPK.

JAKARTA - Dua tersangka kasus ekspor benih lobster atau benur yang juga melibatkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo akhirnya menyerahkan diri setelah sempat lolos dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Rabu (25/11) dini hari kemarin.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri kepada AJNN, Jum'at (27/11/2020) mengatakan bahwa kedua orang yang menyerahkan diri tersebut yaitu seorang pihak swasta bernama Amiril Mukminin (AM) dan Andreau Pribadi Misata (AMP) staf khusus menteri KKP yang juga selaku Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence), langsung ditahan di di rutan KPK cabang Gedung Merah Putih.

Baca juga: KPK Tetapkan Edhy Prabowo dan 6 Orang Lainnya Sebagai Tersangka

"KPK akan menahan keduanya selama 20 hari terhitung sejak tanggal 26 November 2020 sampai dengan 15 Desember 2020," ujar Ali Fikri.

Amril Mukminin dan Andreau Pribadi Misata, sebelum ditahan juga akan menjalani isolasi mandiri untuk mencegah Covid-19. Hal ini merupakan standar operasional prosedur (SOP) yang dilakukan bagi tahanan KPK

Sebagaimana berita sebelumnya, KPK telah menetapkan Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sebagai tersangka terkait perizinan tambak usaha atau pngelolaan perikanan komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020 atau kasus ekspor benih lobster atau benur. Dalam perkara tersebut selain Edhy Prabowo ada enam orang lainnya yang dijadikan tersangka.

Keenam tersangka tersebut yaitu Stafsus Menteri KKP, Safri (SAF), Stafsus Menteri KKP Andreau Pribadi Misanta (APM), Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD),  Staf istri Menteri KKP, Ainul Faqih (AF) dan Amiril Mukminin. Mereka ini merupakan penerima suap. Sedangkan pemberi suap yaitu Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP), Suharjito (SJT).

Uang suap yang diduga diterima Edhy Prabowo dari Suharjito dengan jumlah total berjumlah Rp 10,2 miliar dan USD 100.000 . Uang tersebut diberikan agar Edhy selaku Menteri Kelautan dan Perikanan memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benih lobster atau benur.

Bagi enam tersangka yang diduga penerima suap akan disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Sedangkan untuk yang diduga pemberi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Komentar

Loading...