Unduh Aplikasi

Air Mata dari Hutan Aceh

Air Mata dari Hutan Aceh
Ilustrasi.

BENCANA banjir yang terus terjadi di sepanjang tahun ini menjadi bukti betapa hutan Aceh terus tergerus. Dampaknya pun semakin masif. Silih berganti daerah-daerah di kawasan barat dan timur Aceh terendam seiring dengan datangnya curah hujan yang deras.

Dampak kerugian akibat hal ini juga semakin parah. Tak terbilang harta masyarakat Aceh yang hilang dan rusak. Belum lagi kerusakan infrastruktur. Cetak-cetak sawah yang siap dipanen atau baru ditumbuhi rusak tergenang air hujan yang tak lagi tersimpan di dalam hutan.

Sebaliknya, di saat kemarau, tak ada lagi air yang mengairi sawah-sawah petani. Sungai-sungai kering kerontang. Saat kemarau, jangan harapkan air mengalir ke sawah melintasi irigasi yang panjang.

Upaya penyelamatan terus dilakukan. Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang diharapkan mampu menekan proses kerusakan hutan. Moratorium pemberian izin tambang yang telah berlaku selama setahun dilanjutkan kembali. Pemerintah Aceh juga memberlakukan aturan yang sama terhadap perkebunan sawit.

Gubernur Aceh sebelumnya, Irwandi Yusuf, juga melakukan hal sama dengan mengeluarkan moratorium penebangan hutan. Namun langkah ini tak mampu meredam aksi pembalakan liar yang terus berlanjut tanpa upaya penegakan hukum yang konkrit.

Manusia kerap mengelola sumber alam tanpa memedulikan etika. Tak ada nurani. Semua hanya diukur dengan materi. Atas nama uang, baik yang legal maupun ilegal, segala cara “halal” untuk dilakukan. Tak peduli ribuan hektare sawah kekeringan atau ribuan orang terkena dampak banjir. Konflik manusia dengan hewan serta kehilangan sejumlah spesies penting di hutan adalah dampak-dampak lain yang terus berlanjut.

Satu-satunya jalan keluar dari sejumlah bencana ini adalah dengan mengubah cara pandang kita terhadap hutan. Hutan jangan lagi dianggap berkubik-kubik kayu untuk menopang pembangunan atau tanah-tanah seharga Rp 1.000 per hektare untuk disulap menjadi perkebunan sawit, entah itu milik perusahaan, koperasi, atau perorangan. Hutan dan seluruh isinya harus dijaga bersama sebagai sumber kehidupan.

Bencana ini mungkin akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, namun upaya penyelamatan hutan, dan pengembalian luas tutupan hutan, harus dimulai dari sekarang. Karena dari hutan, harusnya mengalir air jernih dari ribuan mata air, bukan mengalirkan air mata.

Komentar

Loading...