Unduh Aplikasi

Agenda Pecah Belah

Agenda Pecah Belah
Rustam Effendi. Foto: Ist

Oleh: Rustam Effendi

Sudah amat sering kita mendengar soal ini. Bahkan, teramat sering dan tak asing di telinga kita. Kita ini negara kaya yang berlimpah sumberdaya alam.

Di perut bumi kita punya minyak, gas, dan bahan-bahan mineral seperti emas, biji besi, tembaga, dan bahan logam lainnya. Diatas bumi-daratan kita punya ragam tumbuhan yang bikin ngiler negara luar. Punya kelapa sawit, kopi, coklat, kelapa, pala, lada, nilam, gaharu, jati, dan lainnya. Di lautan, kita pun dilimpahi populasi ikan dengan aneka jenis, dari yang kecil hingga yang besarnya bikin geleng kepala.

Di kala negara-negara lain ketar-ketir karena miskin sumberdaya alam, kita malah bisa hidup dengan begitu mudah. Bahkan, saking mudahnya kita tak pernah merasakan jika orang-orang asing acapkali berupaya membuka akses dan masuk ditengah-tengah kita. Kita juga (mungkin) kurang awas, sehingga asyik bertengkar-bertingkir sesama kita. Saling menebar fitnah, saling membenci, menyikut sana-sini. Kita lupa dengan agenda pihak luar yang tetap ingin "menguasai" kita. Kita tidak sadar dengan matlamat mereka yang tetap kukuh untuk menancapkan kaki dan sekaligus kukunya di negara kita yang indah rupawan ini.

Adalah fakta, bahwa kita begitu gampang disulut dengan hal-hal yang remeh. Kita gampang dikipas-kipas dengan pengipas yang berhawa panas yang dibaliknya itu bukanlah air, tapi bara yang sengaja dimainkan mereka, termasuk oleh para anak bangsa kita yang dimanfaatkan mereka dengan segala macam bentuk imbalan. Imbalan yang terkadang mampu mengalahkan rasa nasionalisme, bahkan tega melupakan jasa-jasa para pahlawan yang telah berjibaku menjaga Tanah Air tercinta ini.

Tak ada isu yang paling "seksi" dan sedap untuk dimainkan selain dari isu "rasis". Rasisme bisa ditusuk dengan mudah dan berulang-ulang. Dalam aspek agama, misalnya, hal yang berkenaan aqidah seringkali dijadikan sasaran mainan. Khutbah UAS pun bagaikan sengaja diulang untuk disebar. Padahal, menurut kabar, video itu merupakan tausiyah yang berlangsung tiga tahun lalu. Bahkan, tausiyah itu diadakan di areal yang tertutup dan terbatas. Akibatnya, Ummat Muslim berantuk dengan yang Non-Muslim. Dikala yang lainnya, Ummat Islam pula yang "ditohok" oleh Ummat lain. Dan, sedihnya kita ini terjadi hampir berkala.

Warna kulit dan bentuk rupa/wajah juga menjadi mainan bernama rasis dalam wujud yang lain. Ini pun tak kalah "seksi" dengan isu agama di atas tadi. Jujur saja, tak ada makhluk bernama manusia yang mau disamakan rupanya dengan binatang. Sama juga dengan kita, yang juga tak sudi jika simbol-simbol negara ini dilecehkan.

Apa yang terjadi di Papua dan memantik amarah saudara kita di ujung Tanah Air adalah ekspresi dari kekecewaan mereka. Kita tidak tahu apakah ini akumulasi dari ragam kekecewaan sebelumnya.

Yang pasti, ini yang harus dicamkan. Jika ada dalam proses kehidupan berbangsa ini ada hal-hal yang tidak sepaham, sejauh mungkin dihindari penggunaan kata-kata rasis : hitam, keling, pesek, monyet, babi, anjing, atau apapun namanya.

Kita amat memahami, bahwa kesejahteraan merupakan tujuan akhir dari seluruh energi yang telah kita kuras dan gunakan selama berpuluh tahun. Kita juga mahfum, kondisi kesejahteraan ideal itu belum terwujud sesuai harapan. Papua, Papua Barat, Aceh, NTT, Bengkulu, adalah antara yang masih banyak penduduk miskinnya. Masih banyak masyarakat kita yang belum sejahtera. Untuk bisa makan sehari-hari saja begitu sulit, apalagi untuk bersekolah, berobat, dan bertamasya. Kondisi ini semua membuat bangsa kita ini begitu sensitif.

Oleh itu, para pemimpin kita harus peka mencermati semua ini. Proses kehidupan berbangsa kita mesti dikawal dengan sungguh-sungguh.

Bukti yang terjadi di Papua membuktikan, bahwa keberhasilan proses kehidupan berbangsa ini bukanlah dengan selesainya membangun jalan-jalan TOL, pelabuhan-pelabuhan minimalis berkeramik, atau gedung-gedung kantor yang mentereng. Harus disertai pula dengan sentuhan hati, pelukan, dan setidaknya kepedulian kepada mereka. Akan berakhirnya dana Otsus Papua (pada Tahun 2021) juga harus dijadikan bahan bahasan untuk dicarikan solusinya.

Akhirnya, hindarilah menebar kata-kata amarah dan kebencian. Jangan sesekali menyebut nama binatang untuk siapa pun. Kita ini semua bersaudara. Kita selalu ingin bangsa besar ini tetap besar dan utuh. Bisa hidup rukun, teduh, dan nyaman dalam buaian dan pelukan Ibu Pertiwi.

Penulis adalah Guru/Pengamat Ekonomi

Komentar

Loading...