Unduh Aplikasi

Agar Tak Buta dan Lumpuh

Agar Tak Buta dan Lumpuh
Gerhana matahari. Foto: Reuben Krabbe
KEMAJUAN ilmu pengetahuan membuat manusia semakin mudah mengukur dan memprediksi gejala alam. Dengan warisan pengetahuan berabad-abad lamanya, dalam menentukan momentum alam, manusia menjadi semakin akurat dan efisien. Gerak matahari, bulan, dan bumi semakin mudah diketahui dengan kemampuan komputasi dan peralatan yang semakin maju.

Momentum gerhana matahari, pagi ini, memang tergolong langka. Para pemerhati, baik yang ahli maupun amatiran, fenomena ini tidak akan dijumpai lagi hingga 2026 mendatang. Sebelumnya fenomena ini terjadi 1983. Saat itu, pengetahuan tentang gerhana sangat terbatas. Bahkan cenderung menakutkan.

Dalam Islam, fenomena alam ini dikenal dengan istilah Al-Kusuf. Sedangkan gerhana bulan disebut Al-Khusuf. Dalam sejumlah literatur, disebutkan pernah terjadi gerhana matahari dan kejadiannya bertepatan dengan kematian putra Nabi Muhammad saw. 

Dalam hadis diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad saw berkata, “sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Tidaklah keduanya mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena lahirnya seseorang. Jika keduanya mengalami gerhana, maka berdoalah kepada Allah dan salatlah hingga gerhana selesai.”

Di tengah hiruk pikuk momentum gerhana matahari, hendaknya kita tidak lalai. Tidak juga menyambutnya dengan eforia dan hura-hura. Ada banyak cara memaknai fenomena alam ini dengan lebih bijak. Momentum ini juga hendaknya dijadikan sebagai ajang edukasi bagi keluarga untuk lebih mendorong anak-anak mengenali alam dan penciptanya.

Islam tidak hanya mendorong studi agama. Dengan dukungan Alquran, hadis dan perintah untuk membaca tanda-tanda alam, perkembangan ilmu pengetahuan didapat dengan cara yang lebih efisien. Albert Einstein, ilmuwan terbesar abad ke-20 berkata, “agama tanpa ilmu adalah buta, ilmu tanpa agama adalah lumpuh.”

Komentar

Loading...