Unduh Aplikasi

Agar Kopi Arabika Tak Sekadar Ada

Agar Kopi Arabika Tak Sekadar Ada
Coffee bean progression. Foto: Hajime Fujisaki

KENDALA yang dihadapi para petani kopi di lereng Burni Telong, Bener Meriah, harus menjadi perhatian bersama. Terutama para pemangku kepentingan di wilayah itu, pemerintah, petani dan pembeli. Kekeringan panjang dan hama yang menyerang kebun kopi di kawasan itu membuat produksi kopi di kawasan itu menurun drastis.

Kopi adalah kehidupan di daerah itu. Setiap bijinya menggerakkan ekonomi daerah itu. Kopi adalah penopang perekonomian daerah. Ancaman penurun produksi ini jelas menjadi ancaman serius yang perlu diantisipasi bersama.

Tidak tanggung-tanggung, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bener Meriah Ahmad Ready memperkirakan tahun ini sedikitnya 16 ton kopi hilang. Berapa jumlah rupiah yang ikut menguap.

Namun di setiap kejadian, kita dapat mengambil pelajaran. Dari kaki Burni Telong, kita harus mempelajari bahwa produksi kopi arabika Gayo tak lagi dapat mengandalkan pola konvensional. Harus ada upaya bersama yang dikomandani oleh pemerintah agar setiap tahun, produksi kopi meningkat bukan sebaliknya. Apalagi produksi biji kopi arabika masih dapat digenjot dari 700 kilogram per hektare menjadi 2 ton per hektare.

Ada sejumlah tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak kekeringan lebih parah, seperti penyiangan gulma, pemberian mulsa, penaman pohon lamtoro. Namun secara umum, pemerintah perlu mengubah cara pandang masyarakat terhadap produktivitas kebun kopi. Ini adalah hal penting yang harus dilakukan, segera.

Pemerintah harus mengenalkan dan mendekatkan masyarakat terhadap teknologi dan mendorong penelitian perguruan tinggi di Aceh, bekerja sama untuk mempertahankan kualitas dan produktivitas kopi.

Daerah penghasil kopi di Dataran Tinggi Gayo juga perlu duduk bersama untuk membangun sebuah gerakan bersama meningkatkan nilai ekonomis kopi arabika. Agar benar-benar memberikan nilai lebih, bukan sekadar ada.

Komentar

Loading...