Unduh Aplikasi

Ada Peternakan Linot di Aceh Barat Daya  

Ada Peternakan Linot di Aceh Barat Daya  
 
ACEH BARAT DAYA - Pakaian berwarna putih dengan jaring hitam di arah wajah pada penutup kepalanya. Sekilas terlihat hampir serupa dengan pakaian yang digunakan  Nil Amtrong ketika naik ke bulan. Namun kali ini bukanlah pakaian untuk digunakan naik kebulan melainkan untuk proses panen Madu Kelulut.
 
Serangga jenis kelulut atau dalam bahasa Aceh kerap disapa linot sudah mulai diternakkan oleh masyarakat Aceh, hal itu terlihat seperti peternakan di Gampong Pante Cermen,  Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya.
 
Serangga yang dapat menghasilkan berupa madu dan serbuk tersebut diyakini sangat berkasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis macam penyakit. Seperti luka luar, luka dalam, demam panas, batuk, sakit gigi, stroke, obat jerawat dan sebagainya.
 
"Bagi orang yang baru siap operasi juga bagus, untuk yang lumpuh juga. Dan bubuk yang sudah dimasukkan dalam kapsul itu juga bisa menjadi obat jerawat, tinggal dioleskan saja," kata peternak kelulut, Ibnu Hajar (32), Senin (27/6).
 
Suami dari Habsah (29) ini mulai mendapatkan ide untuk berternak kelulut ketika merantau ke negeri tetangga, yaitu Malaysia beberapa tahun yang lalu. Di negeri jiran itu, kata Ibnu kelulut sudah mulai diternakkan sejak puluhan tahun yang lalu, sedang di Aceh baru sekarang ini. Ketika itu Ibnu dan kakaknya yang merantau ke Malaysia mencuri ilmu dari warga setempat ketika membeli madu kelulut tersebut.
 
"Waktu kami beli madu dan kami perhatikan. Setelah saya pulang Aceh saya mencoba membuat ternak ini dan tetap konsultasi dengan abang saya yang di Malaysia tentang cara ternak linot ini, jadi bukan sekali lihat langsung bisa gitu, itu kami belajar sembunyi," cerita Ibnu.
 
Ayah dari Salshabila (4) itu mulai berternak kelulut pada Agustus 2015. Berkat usahanya tersebut ia bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 5 juta per bulan. Sudah hampir setahun beternak,  Ibnu baru mengantongi pohon sarang kelulut sebanyak 80 buah. Hal itu sangat jauh berbeda dengan jumlah yang dimiliki oleh warga di Malyasia, mencapai 300 sampai 500 buah bahkan ribuan.
 
"Batang pohon yang ada sarang linot itu saya beli sama orang. Kalau kita di Abdya ini biasanya yang ada itu di pohon kelapa dan pohon jambu. Harganya Rp 300 ribu satu, tergantung jaraknya kalau jauh mahal lagi," ungkap dia.
 
Sewaktu panen, setiap sarang kelulut itu dapat menghasilkan dua kali botol berukuran 250 mili liter, dengan masa panen sebulan sekali dalam jumlah banyak. "Setiap hari ada juga yang ambil sedikit-sedikit." Sejak panen pertama pada Januri lalu, madu kelulut itu sudah panen sebanyak tiga kali dengan jumlah mencapai 20 liter. Untuk harga penjualannya Rp 500 ribu per liter.
 
Madu dan serbuk yang dihasilkan itu dijual dengan harga bervariasi. Madu dalam botol berukuran 60 mili liter itu dijual Rp 50 ribu per botol, serbuk dalam botol berukuran sama dijual Rp 150 ribu per botol, sedangkan serbuk yang sudah dimasukkan ke dalam kapasul dijual Rp 2000 per butir.
 
 "Ada tiga rasa madu yang dihasilkan yaitu manis, mansi pahit, dan manis asam. Saat ini stock masih sangat terbatas karena dari 80 buah itu tidak semua bisa panen. Jadi saya sangat berharap kedepan bertambah dengan jumlah yang lebih banyak, targetnya 300 sarang," harap Ibnu.
 
Karena stock madunya sangat minim, Ibnu enggan mengirim madu kelulut tersebut dengan jumlah banyak ke Banda Aceh. Katanya, dari Banda Aceh ada yang pesan madu kelulut itu sebanyak 20 botol, tetapi ia hanya mengirim 10 botol saja.
 
"Masyarakat sudah banyak yang tahu dan beli, sedangkan stock masih sangat terbatas, nanti kalau orang kampung beli sudah tidak ada stock lagi, jadi kan sayang," sebut pria tamatan sekolah menengah pertama itu.
 
Sementara itu, Kepala Kecamatan Manggeng, Jasman sangat mendukung ternak kelulut ini dikembang di Aceh Barat Daya. Bahkan ia menyarankan anggaran desa yang sangat banyak itu bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat salah satunya seperti hal seperti ini. Pihak camat sendiri, katanya, akan mengurus surat izin usaha milik Ibnu tersebut dengan gratis, bahkan ia mengharapkan ada ternak kelulut yang selanjutnya.
 
"Kalau kita mengharapkan usaha beginilah yang sangat dikembangkan. Sebenarnya dana desa itu kesitu. Kalau muncul ini dari rumah-rumah yang lain itu sangat luar biasa, apalagi produksi ini di seluruh Abdya. Jadi saya sangat setuju kalau dana desa untuk ini, untuk kesejahteraan masyarakat, jangan hanya buat jalan yang sudah bagus tapi di poles lagi," pungkas Jasman. 
HUT RI 74 - Pemkab Aceh Jaya
Idul Adha - Bank Aceh
Ubudiyah PMB 2019

Komentar

Loading...