Aceh-Pop Versus K-Pop

Aceh-Pop Versus K-Pop
Ilustrasi: shopee.

KEKAYAAN kultur Aceh tak terbantahkan. Mulai dari kesenian hingga ornamen. Semua daerah di Aceh memiliki keunggulan yang, secara ekonomis, dapat bersaing. Semua ini hanya perlu dikemas dan dipoles agar dapat diterima oleh pasar; menjadi budaya populer. 

Untuk urusan yang satu ini, tak ada salahnya Aceh belajar dari dunia luar, terutama negara yang memiliki determinasi sangat kuat dalam budaya populer: Amerika Serikat. Negara ini memproduksi dan menyebarkan budaya populer lewat banyak cara, Coca-Cola, MTV, hingga film-film Hollywood. 

Cara ini membuat Amerika Serikat memiliki pengaruh teramat kuat di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali negara-negara Islam dan Asia. Lantas, cara ini diikuti oleh Jepang lewat kultur animasi atau komik. 

Namun yang paling fenomenal adalah Korea. Negara yang bertetangga dengan Jepang ini melakukan penetrasi yang luar biasa lewat K-Pop; Hallyu. Bahkan artis-artis Amerika Serikat, yang awalnya tak menganggap Korea, mulai menggandeng artis-artis asal Korea. 

Gelombang Hallyu mulai menggulung anak-anak muda hingga orang dewasa di negeri ini. Mulai dari musik, drama hingga film. Vokal grup seperti Blackpink atau BTS digilai remaja di banyak kota di dunia, tak terkecuali remaja Aceh. 

Emak-emak pun menggandrungi produk Korea. Hampir setiap hari, drama-drama Korea dibanjiri penonton, entah yang ditonton di televisi lokal atau Netflik. 

Produk-produk asal Korea telah terlebih dahulu membanjiri pasar. Hyundai, KIA, Samsung, LG, ada merek-mereka yang memiliki penetrasi pasar luar biasa di Indonesia. Hallyu memberikan sumbangan cukup tinggi pada perekonomian Korea. 

Tentu akan sulit menandingi Korea. Namun Aceh dapat mengembangkan kultur lokal untuk mulai merambah pasar, minimal di Indonesia. Mi Aceh dan kopi Aceh adalah salah satu modal Aceh untuk merambah pasar Indonesia. Apalagi model-model kongkow di Aceh mulai digandrungi di banyak daerah. 

Keberhasilan negara-negara besar menguasai budaya populer ini tak berjalan sendiri. Perlu disain besar yang bergerak bersama menuju satu tujuan bersama pula. Dekranas Aceh sebenarnya dapat memulai hal ini jika benar-benar bekerja serius lewat target dan pendekatan yang serius pula. 

Dekranas hendaknya tidak sekadar menjadi wadah istri pejabat, atau sekadar menjadi panggung yang menawarkan lampu sorot kepada istri-istri pejabat. Apalagi Dekranas juga mendapatkan asupan anggaran dari daerah. 

Lewat dukungan seluruh elemen, satu di antaranya Dekranas, Aceh dapat menawarkan budaya populer yang bakal mendorong penggunaan produk-produk asal daerah ini. Sepanjang semua dilakoni dengan hati, alih-alih sekadar show of force, Aceh bisa memperoleh keuntungan lewat budaya populer yang tak kalah dari budaya lain di dunia. 

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini