Unduh Aplikasi

Aceh Peringkat 26 terkait Indeks Daya Saing di Indonesia

Aceh Peringkat 26 terkait Indeks Daya Saing di Indonesia
Diskusi yang diselenggarakan HMI Aceh, di Gampong Coffee Gayo, Lamnyong, Banda Aceh, 29 Februari 2020. Foto: Ist

BANDA ACEH - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr Amri, mengatakan saat ini Provinsi Aceh, menempati posisi 26 terkait Indeks Daya Saing di Indonesia.

Dijelaskan Amri, hal itu diketahui dari hasil publikasi World Economic Forum (WEF) terkait Global Competitiveness Index (GCI) atau Indeks Daya Saing Global. Salah satunya publikasi indeks daya saing Indonesia.

Dalam laporan tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-50. Dimana posisi ini merupakan penurunan dari peringkat 45 di 2018. Indonesia memiliki skor 65 dari 100 poin, turun 0,3 poin dari tahun sebelumnya.

Meskipun secara umum, Indonesia berada para peringkat ke-4 di kawasan ASEAN, namun Indonesia jauh tertinggal dibawah Singapura yang menempati peringkat pertama, Malaysia di peringkat ke-27 dan Thailand di peringkat ke-40.

“Indeks daya saing Provinsi Aceh berada pada peringkat 26 disebabkan tingkat korupsi yang tinggi, akuntabilitas rendah, tingkat efisiensi, pengelolaan APBA amburadul, serta lemahnya koordinasi Pemerintah Aceh dengan pemerintah kabupaten/kota,“ kata Amri dalam diskusi yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh, Sabtu (29/2).

Lanjutnya, kondisi ini bisa diatasi dengan pemanfaatan APBA yang efektif dan efisien. Sebab, Aceh memiliki kekhususan kucuran dana otonomi khusus dari Pemerintah Pusat. Bahkan, dana yang dimulai sejak 2007 itu sudah mencapai lebih Rp 80 Triliun.

Disamping itu, pengoptimalan potensi pertanian, perikanan, perkebunan dan kehutanan juga diperlukan. Karena potensi itu dimiliki di hampir 23 kabupaten/kota di Aceh. Setelah semua itu berjalan, maka Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sudah terbentuk dapat berjalan secara otomatis.

Menurut penuturan Amri, survei itu juga menampilkan variabel-variabel yang mempengaruhi dan mendorong produktivitas pertumbuhan dan perkembangan suatu negara pada era Revolusi Industri 4.0.

“Indeks yang dikeluarkan WEF seringkali menjadi acuan bagi pemerintah, investor, akademisi, dan awak media dalam melihat dan menilai potensi dan daya saing sebuah negara,“ tuturnya.

Dijelaskan Amri, Indeks Daya Saing tersebut dibentuk dari 103 indikator yang dikelompokkan lagi menjadi 12 pilar utama, yaitu, lembaga, infrastruktur, adopsi TIK, stabilitas makro ekonomi, kesehatan, keterampilan, pasar produk,pasar tenaga kerja, sistem keuangan, ukuran pasar, dinamika bisnis dan kemampuan inovasi.

Pendekatan daya saing yang digunakan oleh WEF menekankan bahwa daya saing bukanlah zero-sum game antar negara, namun merupakan hal yang dapat dicapai oleh semua negara, dengan upaya yang terencana dan terkoordinasi.

Indonesia memiliki poin yang cukup kuat pada variabel ukuran pasar dan stabilitas makro ekonomi. Namun disisi lain, rendahnya Indeks Daya Saing yang dimiliki Indonesia saat ini salah satunya dipengaruhi oleh rendah pertumbuhan pada variabel Inovasi.

Kapasitas Inovasi secara umum dinilai masih sangat terbatas, meskipun ada sedikit mengalami peningkatan. Jika ditelaah lebih lanjut pada pilar Kemampuan Inovasi, Indonesia berada pada peringkat 74 dari 144 negara.

Komentar

Loading...