Unduh Aplikasi

Abu Doto Luncurkan Buku Perjuangan Tanpa Akhir

Abu Doto Luncurkan Buku Perjuangan Tanpa Akhir
Peluncuran buku Abu Doto. Foto: AJNN/Fauzul Husni

BANDA ACEH - Mantan Menteri Kesehatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) meluncukan buku yang berjudul Perjuangan Tanpa Akhir, Senin (31/8) di Hotel Kriyad Banda Aceh. Buku itu ditulis oleh wartawan senior Mohsa El Ramadan, Mujahid Ar Razi serta editor Maskur Abdullah.

Buku tersebut adalah sebuah buku biografi tentang perjalanan hidup Abu Doto--sapaan Zaini Abdullah--yang juga mantan Menteri Luar Negeri GAM, yang kemudian menjadi Gubernur Aceh periode 2012 - 2017.

Buku ini dibagi dalam tiga bagian, terdiri dari 15 BAB. Bagian pertama bercerita tentang masa kecil Abu Doto yang mungkin tidak banyak, atau bahkan tidak terungkap dalam buku-buku lain. Kemudian bagian kedua mengupas pertautan dan perjuangan Abu Doto bersama GAM; dan bagian ketiga memamparkan prestasi Abu Doto sebagai seorang birokrat.

Sang penulis, Mohsa El Ramadan menjelaskan kalau buku ini disusun dan ditulis sebagai bentuk penghormatan terhadap sepak-terjang Abu Doto, atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan keadilan bagi rakyat Aceh kepada Pemerintah Pusat (Jakarta).

"Di mata kami penulis, Abu Doto adalah sosok yang rendah hati, tapi berpendirian teguh," kata Mohsa El Ramadan.

Cerita yang dibangun lewat setiap biografi dan otobiografi tersebut sedikit banyak menyingkap bagaimana peran para tokohnya di dalam organisasi besar tersebut. Selama rentang 40 tahun ke belakang sejak kehadirannya, Aceh Merdeka menjadi perbincangan. Tak hanya secara nasional dan regional, dunia ikut membicarakan kelompok perlawanan tersebut.

Seiring dengan itu, satu demi satu tokoh-tokoh GAM muncul ke publik tapi kisah hidup dan kiprahnya masih terbatas untuk diketahui. Kisah itu hanya bisa dibaca sepenggal-sepenggal lewat artikel di media massa. Karenanya, kehadiran biografi atau otobiografi tentang tokoh-tokoh tersebut sangatlah berguna. Apalagi kisah setiap tokoh tersebut berpilin dalam sehelai benang merah kronologi sejarah Aceh.

"Buku ini memang kurang detail merekam jejak langkah Abu Doto sebagai anak Rapana, sebuah gampong dalam Kemukiman Tiba, Kecamatan Mutiara, Pidie. Atau sebagian khalayak menyebutnya Rapana Teureubue, gampong serupa akademi politik yang kerap menciptakan kader-kader militan," jelasnya.

Ia mengungkapkan beberapa sudut pandang dalam buku ini memang belum tergali secara mumpuni. Terutama di bagian pertama tentang masa kecil Abu Doto hingga menempuh pendidikan di Kutaraja. Bagian ini lebih berfungsi sebagai “snapshot” untuk melihat seperti apa masa kecil mantan Gubernur Aceh ini.

"Sebenarnya, banyak cerita menarik yang masih bisa diungkap dari kebersahajaan seorang Zaini Abdullah. Seiring ia tumbuh dan berkembang, begitu banyak peristiwa besar Aceh di masa lalu yang bergesekan langsung dengannya. Mulai dari pergolakan DI/TII Daud Beureueh, Prang Cumbok, hingga Aceh Merdeka," ungkapnya.

Menurutnya, porsi terbesar buku ini adalah pencapaian Abu Doto saat menjabat Gubernur Aceh. Ada banyak hal positif yang ditorehkan Abu. Ambil contoh proyek revonasi Masjid Raya Baiturrahman yang awalnya dianggap prestisius tapi akhirnya dipuji banyak orang.

"Masjid Raya Baiturrahman tak hanya ikon Banda Aceh tapi ia juga rumah ibadah yang berlumuran sejarah dan mengundang decak kagum orang luar Aceh. Di tangan Abu, masjid ini diperindah, diberi payung layaknya Masjid Nabawi Madinah, dan mempunyai parkir bawah tanah--konsep parkir yang masih baru untuk kota seperti Banda Aceh," ujarnya.

Abu Doto menyerahkan buku kepada mantan Kepala Dinas Syariat Islam, Syahrial Abbas. Foto: AJNN/Fauzul Husni

Untuk segi infrastruktur seperti itu, hal lain yang dilakukan Abu Doto adalah membuat jalan fly over di Simpang Surabaya, serta underpass di mulut Jembatan Beurawe dan Jembatan Darussalam. Sarana transportasi yang dibuat untuk menguraikan kemacetan ini juga tergolong baru pertama kali ada di Banda Aceh.

"Sebuah visi yang mengubah wajah kota menjadi lebih modern. Padahal, beberapa tahun sebelumnya kota tersebut luluh lantak dihantam tsunami. Dari segi ekonomi, Abu Doto mengubah wajah Bank Aceh yang konvensional berjubah Syariah, sejalan dengan penegakan syariat Islam. Mulanya gebrakan ini dianggap angin lalu," kata Ramadan.

Bahkan, kata Ramadan, ketika awal-awal menjabat gubernur, pekerjaan rumah pertama Abu Doto adalah memperjuangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun. Abu Doto ingin agar semua pihak tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu. Jakarta harus memberi kesempatan lebih besar kepada Aceh dalam mengelola aset tersebut. Abu Doto percaya penyerahan aset-aset itu kepada Pemerintah Aceh akan memberikan rasa keadilan yang pernah “dirampas” dari rakyat Aceh.

"Masih banyak pencapaian monumental Abu Doto yang tak bisa kami tuangkan semua. Diantaranya menuntaskan tahapan-tahapan UUPA, penetapan Hari Perdamaian Aceh setiap 15 Agustus, membangun 14 ruas jalan tembus, membangun 15 ribu unit rumah duafa, warga miskin, korban konflik, dan korban bencana alam," jelasnya.

Kemudian, menegerikan tiga universitas di Aceh, mereformasi sistem birokrasi, pencapaian WTP pertama, membangun lima rumah sakit regional, moratorium tambang, membangun rel Sumatera terpadu, membangun moda angkutan gratis bus Damri, menyelesaikan 53 proyek bermasalah, dan masih banyak lagi.

"Buku ini ditulis berdasarkan bahan dokumentasi dan wawancara langsung dengan Abu Doto. Beberapa bagian cerita memang agak terputus karena hanya mengandalkan ingatan Abu Doto, terutama di bagian masa kecil hingga pra Aceh Merdeka. Kami kesulitan menemukan teman kecil sepermainan Abu Doto yang kebanyakan telah tiada," ungkapnya.

Sementara itu, Abu Doto mengaku buku ini ditulis agar menjadi bahan pembelajaran untuk generasi yang akan datang, sehingga sejarah masa lalu ketika konflik di Aceh akan menjadi cerita bagi anak cucu.

"Jadi maksud saya kalau tidak ditulis seperti ini, generasi yang akan datang tidak akan mengetahui sejarah masa lalu," ujarnya.

Abu Doto mengaku alasan kuat meluncurkan buku tersebut karena permintaan berbagai teman sejawat, keluarga, para jurnalis dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memintanya untuk segera menuliskan buku biografi.

"Banyak alasan kenapa buku ini saya keluarkan, salah satunya juga karena desakan Jusuf Kalla," ujarnya.

Komentar

Loading...