Unduh Aplikasi

71 Tahun Merdeka, Warga Kuta Batu Singkil Terbelenggu Kemiskinan

71 Tahun Merdeka, Warga Kuta Batu Singkil Terbelenggu Kemiskinan
Warga Kuta Batu Singki tinggal di bekas gedung sekolah dasar yang kondisinya nyaris rubuh. Foto: Edi Putra
ACEH SINGKIL - Genap 71 tahun sudah Indonesia merdeka, 17 tahun Aceh Singkil berdiri menjadi sebuah daerah otonom di Aceh, namun hal itu tak lantas menjamin rakyatnya hidup layak, ketimpangan masih saja menjadi persoalan pelik di negeri ini. Contohnya seperti apa yang dialami 17 dari total 24 Kepala Keluarga (KK) penduduk Kampong Kuta Batu Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil.

Jangankan fasilitas mewah, bahkan rumah saja hingga kini mereka tak punya. Kondisi itu diperparah dengan sulitnya akses trasportasi menuju ke salah satu kampong tertua di bumi sekata sepekat itu, kampung itu benar-benar terisolasi dan miskin.

Bayangkan, 17 KK warga yang tak memiliki rumah itu terpaksa harus tinggal berdesakan di bekas gedung sekolah dasar yang kondisinya nyaris rubuh termakan usia, sungguh jauh dari kata layak kehidupan mereka.

Himpitan ekonomi, membuat warga yang umumnya merupakan eks buruh kasar yang dulunya tinggal di pondok kebun milik majikanya itu tak punya banyak pilihan. Setelah berhenti bekerja, mereka yang pulang ke kampung halaman terpaksa hidup dengan segala keterbatasan.

"Sudah 10 tahun kami tinggal disini. Sekarang kondisi bangunan bekas sekolah ini sudah mulai rusak. Ada juga sebagian warga yang pindah," kata, Murni, (40) penghuni bangunan tua bekas sekolah itu.

Murni menceritakan bagaimana kehidupan mereka di gedung itu, kata Murni setiap ruangan di huni satu kepala keluarga. Di dalam bekas ruang kelas itulah mereka berteduh dari teriknya matahari dan guyuran hujan. Memasak, menyimpan hasil pertanian dan juga tidur bersama anggota keluarga, semua dilakukan di tempat yang sempit itu.

Kondisi itu masih diperparah dengan kurangnya sarana air bersih, untuk memenuhi kebutuhan air setiap harinya pun mereka hanya mengandalkan air sungai. Sungai itu jugalah yang mereka jadikan sebagai jalur transportasi mengangkut hasil pertanian atau keluar menuju desa terdekat untuk berbelanja memenuhi kebutuhan keluarga.

Butuh waktu satu jam perjalanan dengan mendayung perahu untuk bisa sampai di kampong terdekat. Tapi lantaran jalur darat yabg ada sangat curam dan terjal sehingga sulit dilalui, mereka terpaksa memilih memeras peluh mengarungi sungai.

"Jalannya rusak jadi lewat sungai kami," kata warga lainya.

Murni dan warga lainya berharap dimomen hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 71 ini, tangan pemerintah datang menyentuh mereka, membangunkan mereka rumah, membuka jalur transportasi darat sehingga desa mereka bebas dari keterisoliran serta membangunkan fasilitas sekolah untuk anak-anak mereka.

"Kami berharap pemerintah membantu kami keluar dari kemiskinan dan keterisolasian ini, anak kami juga sekolahnya jauh di kuta tinggi," harap wanita paru baya itu.

Harapan warga tentunya kini berpulang kepada pemerintah, sebab ditangan merekalah kebijakan akan tercipta.

Komentar

Loading...