Unduh Aplikasi

57 Nelayan Aceh Masih Ditahan di Thailand, India dan Myanmar

57 Nelayan Aceh Masih Ditahan di Thailand, India dan Myanmar
Sekretaris Panglima Laot Aceh, Miftach Cut Adek saat menyampaikan data nelayan yang terdampar di luar negeri. Foto: AJNN/Rahmat Fajri

BANDA ACEH - Sebanyak 57 nelayan asal Aceh masih tertahan di tiga negara yakni Thailand, India dan Myanmar. Mereka semua ditangkap karena terdampar akibat kerusakan bot dan kehilangan arah.

Sekretaris Panglima Laot Aceh, Miftach Cut Adek menyebutkan, ke 57 nelayan Aceh yang ditangkap itu tersebar di Thailand 31 orang, India 25 orang dan di Myanmar tinggal 1 orang.

"Jadi para nelayan Aceh ini terseret ke wilayah laut luar karena mengalami kerusakan bot dan juga kehilangan arah, bukan sengaja," kata Miftach kepada wartawan, Rabu (5/2).

Miftach mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh, 31 nelayan yang terdampar ke Thailand itu berasal dari Aceh Timur, mereka ditangkap pada 21 Januari 2020, masuk ke wilayah Thailand karena kapal mengalami kerusakan atau mati mesin.

"Mereka tidak ada hubungan dengan ilegal fishing. Hanya karena kapal rusak," ujarnya.

Kemudian, 25 nelayan Aceh terdampar ke India karena faktor cuaca buruk, badai dan kabut asap. Sehingga terbawa arus ke perairan Nicobar, India dan ditangkap aparat di sana pada 22 Maret 2019 dengan kapal KM Athiya 02  sebanyak tiga orang, serta terbaru ditangkap pada 25 Desember 2019 dengan bot KM Selat Malaka.

Selanjutnya, kata Miftach, nelayan Aceh yang masih ditahan di Myanmar bernama Jamaluddin. Ia ditangkap  pertengahan November 2018 lalu bersama 14 awak kapal lainnya.

Namun, hanya Jamaluddin yang dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Sedangkan 14 anak buah kapal lainnya telah dipulangkan ke Aceh pada 30 Januari 2019 lalu.

Miftach menyambung, sejauh ini pihaknya sudah berusaha untuk memulangkan para nelayan disana, serta meminta adanya keringanan hukuman terhadap nelayan yang telah diputuskan bersalah.

"Kami sudah melayangkan surat ke Kementrian Luar Negeri, namun hingga kini belum ada respon terkait perkembangan nelayan Aceh yang masih berada di tiga negara itu," tutur Miftach.

Karena itu, Miftach meminta kepada pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat untuk terus melakukan advokasi agar mereka semua dibebaskan, atau setidaknya dapat membantu meringankan hukuman.

"Kita sudah menghubungi pemerintah agar bisa melakukan advokasi dibebaskan dan diringankan hukumannya," imbuh Miftach.

Komentar

Loading...