Unduh Aplikasi

21.337 Rumah di Lima Kabupaten/Kota akan Tersambung Jargas Tahun Ini

21.337 Rumah di Lima Kabupaten/Kota akan Tersambung Jargas Tahun Ini
Kadis ESDM, Mahdinur. Foto: Ist

BANDA ACEH - Sebanyak 21.337 rumah warga yang tersebar di lima kabupaten/kota yaitu, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang akan tersambung jaringan gas (jargas) di tahun 2020 ini.

"Anggaran sekitar Rp 240 miliar telah diplotkan untuk pembangunan jargas tersebut, pekerjaannya sedang berlangsung," kata Kepala Dinas ESDM Aceh, Mahdinur melalui Kepala Bidang Minyak dan Gas, Dian Budi Darma kepada AJNN, Kamis (16/4).

Menurut Dian, dari 21.337 rumah itu, untuk Lhokseumawe akan dibangun sebanyak 3.000, Aceh Utara 3.510, Aceh Timur 5.016, Langsa 5.811 dan Aceh Tamiang 4.000 sambungan rumah (SR).

Dengan rincian, tiga kecamatan di Lhokseumawe yaitu Cunda, Baiturahman dan Hagu. Satu kecamatan di Aceh Utara yaitu Panto Labu, Satu kecamatan di Aceh Timur yaitu di Idi, satu kecamatan di Langsa yaitu Langsa Baro dan di Aceh Tamiang juga satu kecamatan yaitu Kecamatan Kualasimpang.

"Dengan selesainya dibangun 21.337 sambungan jargas tahun ini, maka total jargas yang telah dibangun di Aceh mencapai 35.824 sambungan ke rumah warga terhitung sejak tahun 2015," sebut Dian.

Dikatakan Dian, pembangunan jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga dapat mengurangi kemiskinan di Aceh. Pembangunan Jargas upaya pemerintah untuk mengalihkan penggunaan minyak bumi yang terus meningkat ke energi alternatif guna memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Dian menambahkan, langkah-langkah strategis pemerintah dalam upaya pemenfaatan energi alternatif pengganti BBM adalah peningkatan penggunaan bahan bakar gas bumi untuk sektor rumah tangga dan pelanggan kecil, sehingga dapat meningkatkan fuel security of supply dan tercapainya keseimbangan bauran energi (energy mix) serta penurunan subsidi minyak tanah dan LPG.

"Kebijakan pemerintah ini dimaksudkan untuk membangun kedaulatan dan kemandirian di bidang energi dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional, penyediaan energi yang bersih, murah, ramah lingkungan yang mana juga merupakan program ACEH HEBAT," tuturnya.

Dian juga mengatakan, kebijakan pembangunan Jargas merupakan salah satu program diversifikasi energy untuk mengurangi ketergantungan terhadap import LPG dengan pengalihan penggunaan LPG (3 kg, 12 kg dan 50 kg) ke gas bumi (Jargas) pada sektor rumah tangga dan pelanggan kecil.

Pemanfaatan energi alternatif pengganti BBM ini, menurut Dian, perlu dukungan dan optimalisasi penggunaan gas bumi pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi gas bumi dan dekat dengan infrastruktur pipa gas bumi untuk dikembangkan menjadi wilayah distribusi gas seperti di wilayah pantai timur Aceh yang memiliki jalur pipa utama Arun-Belawan (ARBEL).

Foto: Ist

"Pemerintah Aceh terus berusaha dengan berbagai cara untuk mengurangi kemiskinan yang salah satunya adalah mengurangi pengeluaran biaya bagi masyarakat miskin," ujarnya.

Dengan pembangunan distribusi gas rumah tangga, sambung Dian, maka dapat mengurangi pengeluaran biaya rumah tangga masyarakat miskin untuk kebutuhan energinya.

Jika diasumsikan penggunaan rata-rata gas LPG rumah tangga sederhana adalah empat tabung LPG 3 kg (12 kg) per bulan, maka biaya energi yang dikeluarkan oleh rumah tangga sederhana dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) di pangkalan Rp. 18.000., x 4 adalah Rp.72.000 untuk LPG subsidi. Sedangkan untuk LPG non subsidi biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga sekitar Rp. 150.000,. per bulannya (LPG 12 kg).

"Nah, apabila digunakan gas rumah tangga yang saat ini harganya Rp. 4.250/meter kubik, maka pengeluaran untuk rumah tangga perbulan untuk penggunaan LPG sebesar 12 kg x 1,25 x 4.250 hanya Rp 63.750," terang Dian.

Menurutnya, dengan pembangunan Jargas juga bisa meningkatkan keuntungan bagi para usaha golongan bawah seperti usaha rumah tangga pembuatan kue, penjual gorengan, warung-warung kopi sederhana. Karena telah mengurangi biaya produksi sebab menggunakan gas rumah tangga yang harganya relatif lebih murah.

Pembangunan Jargas di Aceh tahun ini terjadi lonjakan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, karena pembangunan pertama pada tahun 2015 hanya 3.997 sambungan rumah (SR) di Lhokseumawe, tahun 2016 (4.000 sambungan) di Aceh Utara, 2017 (2000 sambungan) di Lhokseumawe dan 2019 (4.490 sambungan) di Aceh Utara.

"Ini mencerminkan usaha pemerintah untuk mengentaskan angka kemiskinan di Aceh sangat serius dan tidak main-main," ungkap Dian.

"Pembangunan Jargas untuk wilayah Aceh lainnya akan segera terwujud jika pembangunan jalur pipa utama Arun-Banda Aceh (ARBAN) segera terlaksana dari melalui rencana investasi Abu Dhabi investment Authority (ADIA) Uni Emirate Arab (UEA)," tambahnya.

Komentar

Loading...