Unduh Aplikasi

INTERMESO

#2019GANTIGUBERNUR

#2019GANTIGUBERNUR
ilustrasi: Poole Dorset

BANG Awee membuka bungkus hitam yang membalut kotak kecil seukuran kemasan martabak mesir. Dengan pisau lipat terhunus, dia membuka satu per satu perekat yang menggabungkan bagian-bagian bungkusan hitam itu. Dia melakukannya dengan sangat berhati-hati.

Bang Awee bukan sedang menjinakkan bom. Dia baru menerima kiriman dari Jakarta. Dari adiknya di Jakarta. pakaian itu dikirim menggunakan salah satu jasa kurier yang berkantor di Lhueng Bata, Banda Aceh.

Di dalam bungkusan itu, terlipat sebuah kaos hitam. Kaosnya t-shirt biasa. Namun tulisan di bagian dada yang membuat semua orang yang duduk di warung kopi, terutama kami yang duduk semeja dengannya, tersenyum-senyum. Kaos itu bertuliskan #2019GANTIPRESIDEN.

“Kenapa kalian senyum-senyum, mau?” kata Bang Awee memamerkan kaos berukuran xl itu. Bang Rambo langsung menyahut. “Ah, aku mau cetak satu saja kaos. Tulisannya: #2019GANTIGUBERNUR.”

“Kalau itu, kau mengada-ada Rambo. Dari mana jalannya mau ganti gubernur. Gubernur sekarang kan baru terpilih. Nanti kalau mau, 2022,” kata Bang Awee. “Kalau pakai interpelasi, pasti tak bisa. Prosesnya panjang. Dewan (Perwakilan Rakyat Aceh) juga tidak serius-serius amat mengusung interpelasi.”

“Aku serius ni. Sepertinya 2019 harus ganti presiden. Kita harus berkaca pada keberhasilan Malaysia menjatuhkan rezim yang korup. Harus ada suara bersama. Selama ini, masyarakat dininabobokkan dengan pencitraan pemimpin. Faktanya, banyak hak-hak rakyat yang terus diabaikan. Kita harus buktikan bahwa demokrasi di Indonesia lebih baik. 2019 harus ganti presiden,” kata Bang Awee dengan nada berapi-api, persis orator pada demonstrasi di Simpang Lima.

Mau tak mau, aku angkat bicara. Sebenarnya aku malas juga. Karena toh tanda pagar (tagar) apapun tak menjamin pergantian bakal terjadi. Apalagi, politikus tua masih asyik sendiri. Sementara politikus muda, yang potensial dan layak, harus bersabar karena belum ada partai politik yang mendukung. Atau lebih baik seperti Muhaimin Iskandar, ketua Partai Kebangkitan Bangsa. Dia tidak muluk-muluk. Tergetnya cuma jadi wakil presiden.

“Tagar ini, tagar itu tidak jadi masalah. Yang tak suka Jokowi (Joko Widodo) bisa saja membuat #2019GANTIPRESIDEN. Atau yang suka bisa membalas dengan #2019PRESIDENTETAP. Yang doyan kencan, bisa buat #2019GANTIPACAR. Atau yang transgender bisa buat #2019GANTIKELAMIN. Ini alam demokrasi. Yang tak seharusnya dilakukan adalah memaksakan pilihan politik atau bahkan keyakinan. Pilihan itu ada di diri masing-masing,” aku berujar tanpa melepaskan pandangan dari televisi yang menayangkan siaran langsung salat tarawih dari Masjidil Haram. 

Komentar

Loading...