Unduh Aplikasi

14 Nelayan Aceh di Myanmar Dibebaskan, Satu Orang Ditahan

14 Nelayan Aceh di Myanmar Dibebaskan, Satu Orang Ditahan
14 nelayan Aceh Timur bersama dengan staf Sapa dan Peduli, Nasharuddin (baju biru) dan istrinya serta pihak KBRI Yangon, Myanmar, di Masjid KBRI. Foto: Ist

BANDA ACEH - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Uni Myanmar, Irjen Pol. Prof. Dr. Iza Fadri akan melaksanakan kunjungan kerja ke Provinsi Aceh. Hal itu sesuai dengan surat Kedutaan Besar Republik Indonesia Yangon yang dikirimkan kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, tertanggal 26 Januari 2019. Dalam surat yang diterima AJNN, surat tersebut diteken oleh Kepala Perwakilan RI di Yangon, Prof. Dr. Iza Fajri.

Surat bernomor 00092/BK/01/2019/POL/01, menyebutkan dalam kunjungan kerja tersebut, Dubes LBBP untuk Republik Uni Myanmar, akan menyerahkan 14 nelayan Aceh yang sempat ditahan oleh Republik Uni Myanmar, kepada Plt Gubernur, Nova Iriansyah.

Dalam surat tersebut menyebutkan merujuk surat resmi dari Kementerian Luar Negeri No 48 48 (21) 2018 (0295) tanggal 18 Januari 2018 kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia Yangon tentang keseriusan dan kesungguh-sungguhan Pemerintah Myanmar dalam menyelesaikan kasus warga Negara Indonesia yaitu 15 orang nelayan Aceh yang ditahan Kawthaung, Tanintharyi Region.

Pada tanggal 24 Januari 2019, lokal staf KBRI Yangon berangkat ke Kawthaung untuk menjemput ke 14 orang nelayan tersebut Kawthaung, dan selanjutnya pada hari yang sama melanjutkan perjalanan menuju LBRI Yangon. Selanjutnya tanggal 29 Januari 2019, pelaksana fungsi Protkons KBRI Yangon beserta Sekrpi akan mengatarkan 14 orang nelayan tersebut ke Aceh vis Kuala Lumpur dan akan tiba di Banda Aceh pada 30 Januari 2019, pagi sekitar pukul 08.30 WIB.

Sehubungan dengan hal tersebut, dengan hormat, pada 28 sampai 30 Januari 2019, Dubes RI Yangon beserta Atase Pertahanan, Kolonel Laut Fajar Rusdianto akan tiba di Aceh pada 28 Januari 2019 sekitar pukul 21.30 WIB. Sementara, 14 nelayan Aceh itu akan diserahkan langsung kepada Plt Gubernur Aceh pada 30 Januari 2019.

Sementara itu, informasi yang diperoleh AJNN dari Very Khuzairy, pimpinan LSM Sapa dan Peduli, sebuah lembaga fundraising asal Aceh yang sedang menjalankan misi kemanusian terhadap Muslim Rohingya di negeri seribu pagoda tersebut membenarkan pembebasan nelayan Aceh itu.

Baca: Dubes RI di Myanmar Siapkan Bantuan Hukum untuk Nelayan Aceh

Dari 16 nelayan yang terdampar di Myanmar, hanya 14 orang yang dibebaskan. Sementara satu orang nelayan, Nurdin meninggal dunia, dan satu orang lainnya Jamaluddin, harus ditahan karena merupakan pawang kapal, sehingga harus menjalani proses hukum disana.

Adapun 14 nelayan Aceh Timur yang berhasil dibebaskan tersebut bernama Samidan, Nazaruddin, Jamaluddin M Nur, Darman, Sulaiman, Ependi, Rahmat Dani, Sapri, Sukri, Saipuddin, M. Rais, M. Akbar, Faturrahman, Umar Saputra.

“Kami baru saja peroleh informasi dari staf kami disana Nasharuddin, jika empat belas nelayan asal Aceh Timur yang ditahan sejak November 2018 lalu telah berhasil dibebaskan oleh KBRI. Staf kami sebelumnya dapat informasi dari salah seorang staf KBRI disana. Saat ini pak Nas sudah menjumpai para nelayan tersebut,”kata Very kepada AJNN, Selasa (29/1).

Surat KBRI Yangon kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Foto: Dok AJNN

Menurut Very, para nelayan tersebut ditangkap oleh Angkatan Laut Myanmar pada November 2018 lalu, saat sedang menangkap ikan tuna diperairan laut lepas Andaman. Namun para nelayan tersebut tidak nyadari jika mereka telah masuk keperairan negeri seribu pagoda tersebut, saat sedang mengikuti sepotong balok terapung tempat berkumpul ikan.

Para nelayan asal Aceh Timur ini, bahkan tidak mengetahui jika mereka diamankan oleh para Angkatan Laut negara itu, lantaran saat mereka ditangkap sekelompok angkatan laun yang berjumlah lima orang itu menyamar seperti nelayan, sehingga para nelayan asal Aceh ini mengira jika mereka akan dirampok.

“Mereka mengira akan dirampok, karena saat itu mereka berjumlah lima orang dengan rambut panjang dan menggunakan boat nelayan. Bahkan Jamaluddin pawang boat sempat bilang dirampok loem tanyoe (sudah dirampok lagi kita). Itu berdasarkan pengakuan dari nelayan kepada staf kami,” kata Very.

Para nelayan yang telah dibebaskan tersebut, akan dipulangkan menggunakan pesawat Malindo melalui Malaysia dan dari Malaysia menuju Aceh menggunakan Air Asia. Kemungkinan, kepulangan para nelayan asal Aceh Timur tersebut akan disambut oleh Bupati Aceh Timur, Hasballah M Thaib atau akrab disapa Bupati Rocky.

Komentar

Loading...