Unduh Aplikasi

INTERMESO

Wali Nanggroe Menuntut

Wali Nanggroe Menuntut
ilustrasi: anny cook

BANG Awee dan Bang Rambo bersitegang saat aku duduk di hadapan mereka, di sebuah warung kopi di Lampu Merah Batoh, Banda Aceh, beberapa waktu lalu. Mereka tak sedang memperdebatkan kemenangan Joko Widodo atau Prabowo. Bukan pula bertekak urusan banyaknya dugaan kecurangan pada pemilihan umum kali ini.

Mereka berdebat soal sebuah kata. Bang Awee menganggap pemerintah, baik di tingkat nasional maupun di daerah-daerah mengabaikan pentingnya peran Bahasa Indonesia yang baku sebagai bahasa resmi. Sebagai bahasa resmi, harusnya seluruh dokumen, pesan, ataupun iklan yang dikeluarkan oleh pemerintah menggunakan Bahasa Indonesia yang baku.

“Contoh, Wen, kata ‘imbauan’. Di banyak tempat, baik di persimpangan jalan, selebaran, atau di iklan-iklan di media massa, pemerintah lebih sering menulis ‘himbauan’. Ini adalah sebuah kesalahan kecil yang menunjukkan bahwa pemerintah tak peka terhadap pentingnya Bahasa Indonesia dalam keseharian,” kata Bang Awee.

Seharusnya Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu. Keberadaannya penting sebagai citra bangsa. Bukan sekadar citra, tapi juga identitas. Banyak yang mengaku mencintai negara ini, tapi urusan bahasa, kita sering kalah dengan bahasa asing atau bahasa prokem.

“Tapi Bahasa Indonesia terlalu kaku, Bang,” kata Bang Rambo. “Abang pun kalau ngomong lebih suka pakai bahasa pasaran ketimbang bahasa baku.”

Bang Awee tak membantah. Memang dalam berbicara, orang akan menggunakan bahasa yang mudah untuk menyampaikan pesan terhadap lawan bicara. Namun tidak dalam bentuk tulisan. Apalagi dalam dokumen negara. Hal ini menunjukkan kealpaan. Kealpaan menuntun pada musnahnya Bahasa Indonesia baku.

Ada banyak contoh kesalahan yang terus menerus dipopulerkan dan menjadi “tak salah lagi”. Kata “masjid”, misalnya, banyak ditulis dengan “mesjid”. Sekedar harusnya sekadar. Menghadang harusnya mengadang.

“Pemerintah Kota Banda Aceh juga mempopulerkan sesuatu yang salah sejak lama. Wali kota harus ditulis terpisah. Tapi selama ini malah disambung. Bagaimana jika nanti wali murid, atau Wali Songo, wali nikah, atau bahkan Wali Nanggroe menuntut penulisan dua kata itu sambung?” kata Bang Awee.

Aku hanya tersenyum. Tapi memang apa yang dikatakan Bang Awee benar. Karena bahasa adalah bangsa. Kalau bahasanya cilet-cilet, kapan juga bangsanya jadi besar.

Komentar

Loading...