Unduh Aplikasi

Ulee Kareng Riwayatmu Kini

Ulee Kareng Riwayatmu Kini
Simpang Tujuh Ulee Kareng. Foto: ist

Bencana ikut mengubah wajah Ulee Karang. Kini menjadi pusat niaga baru di Banda Aceh.

Magrib baru saja usai. Asap sate mengepul dari panggangan di depan sebuah kedai kopi. Seorang pengunjung masuk dan memesan kopi. Di kedai seberang, beberapa bule tua sedang asyik berbincang di sebuah meja. Di atasnya terhidang kopi dan aneka penganan lainnya.

Jalan di antara kedua kedai itu hilir mudik kendaraan. Agak susah jika ingin menyeberang. Sekitar satu meter badan jalan di kiri kanan terisi kendaraan yang parkir. Tak jauh dari kedai, kemacetan kecil terjadi di sebuah persimpangan.

Kemacetan di antara kepul asap sate dan bau kopi itu terekam di Simpang Tujuh, Ulee Kareng, Banda Aceh, pertengahan Februari lalu. Dinamakan Simpang Tujuh karena di situlah tujuh ruas jalan dengan arah berbeda, bertemu. Ketujuh ruas jalan itu adalah Jalan T Iskandar sebagai jalur utama, Jalan Meunasah Tuha, Jalan Lamreung, Jalan Ulee Kareng-Prada, Jalan Lamgapang, dan Jalan Teungku Yusuf. Di Banda Aceh, inilah persimpangan terbanyak yang ada hingga sekarang. Di jam-jam sibuk, persimpangan ini lumayan macet. 

Simpang Tujuh Ulee Kareng merupakan kawasan perdagangan dan jasa. Di sana ada pasar rakyat, toko pakaian dan warung kopi. Sebelum tsunami Aceh 2004, kawasan ini dikenal dengan kopinya yang enak. Selepas tsunami, ketika Aceh dibanjiri para pekerja kemanusiaan, nama Ulee Kareng melambung. Apalagi yang membuatnya pamor kalau bukan kopi.

Ulee Kareng merupakan kecamatan yang memiliki dua mukim yakni Pouteumereuhom dan Simpang Tujuh. Gampong-gampong di Kemukiman Pouteumereuhom adalah Pango Raya, Pango Deah, Lamteh Ilie dan Lambhuk. Sedangkan di Simpang Tujuh terdapat Gampong Ceurih, Ie Masen, Ulee Kareng, Lamglumpang dan Doy.

Merujuk ke data di situs resmi kecamatan, luas Kecamatan Ulee Kareng 615 hektare. Di sebelah utara, selatan dan timur berbatasan dengan Kecamatan Syiah Kuala, Lueng Bata dan Kuta Alam. Sementara di barat, berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar.

Dulu Ulee Kareng berada di wilayah administrasi Aceh Besar, dalam Kecamatan Ingin Jaya. Setelah pemekaran Kota Banda Aceh, Ulee Kareng berada dalam wilayah Kecamatan Syiah Kuala. Tahun 2000, Ulee Kareng berdiri menjadi kecamatan sendiri. Hal ini berdasarkan Peraturan Daerah Kota Banda Aceh Nomor 8 Tahun 2000. Peraturan ini membagi wilayah Banda Aceh dari lima menjadi sembilan kecamatan.

Setelah pemekaran tersebut, Ulee Kareng terus berbenah dalam administrasi pemerintahan serta pembangunan sarana dan prasarana. Saat gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 kecamatan ini tidak terkenak dampak secara langsung. Secara geografis, posisi Ulee Kareng jauh dari bibir pantai.

Pascabencana ganda, Ulee Kareng menjadi pusat niaga baru karena sebagian besar wilayah Banda Aceh babak belur. Perpindahan penduduk pun meningkat ke kawasan ini. “Penduduk asli dengan pendatang bisa dibilang jumlahnya 50-50. Sangat berbeda dengan zaman dulu yang masih banyak orang asli,” ujar Cek Wan, warga asli Ulee Kareng, beberapa waktu lalu.

Perpindahan penduduk ke Ulee Kareng memang banyak terjadi setelah tsunami. Namun, kata Cek Wan, mobilisasi pendatang ke kawasan itu terjadi sejak 1970-an. Beberapa kebijakan pemerintah kota juga ikut berdampak langsung pada perkembangan Ulee Kareng. Misalnya, pembangunan jalan tembus dari depan Kantor Gubernur hingga Pango. Jembatan layang di Gampong Pango menjadi penghubung Aceh Besar dengan Kota Banda Aceh juga berdampak besar pada denyut perkembangan Ulee Kareng.

Namun, pusat bisnis Ulee Kareng tidak berubah sejak dulu, masih tetap di Simpang Tujuh. Lewat trade mark warung kopi, nama Ulee Kareng melambung hingga ke mancanegara. Ulee Kareng kini menjadi branding produk bubuk kopi dari Aceh dengan aroma dan rasa yang khas.

Walaupun begitu, pertumbuhan Ulee Kareng tak sebatas dari keberadaan warung kopi saja. Di sepanjang Jalan T Iskandar kini berderet toko-toko. Sebagian besar adalah gerai pakaian, terutama distro. Hampir tiap jengkal lahan di kiri kanan jalan tersebut diisi oleh toko-toko.

Padahal, puluhan tahun lalu jalan itu masih tak beraspal dan sempit. Di sepanjang jalan juga terdapat pohon asam jawa. Pohon ini ditanam pada zaman kolonial Belanda. Sebagian kemudian ditebang pada 1987 untuk kepentingan perluasan jalan ke arah Beurawe.
Sementara simpang tujuh sendiri sejak dulu telah ada.

“Sejak saya kecil simpang tujuh tersebut sangat sempit. Simpangnya memang tujuh lorong, tidak ditambah atau dikurang," ujar Nawawi. Nawawi adalah warga Ulee Kareng yang sejak lahir menetap di simpang tujuh tersebut. Pria yang akrab disapa Cek Nawi ini menjalankan kedai kopi keluarganya--Solong Coffee--sejak 1974.

Solong Coffee terletak di Jalan Teuku Iskandar. Di kedai ini kopi diracik secara tradisional, mulai dari penggilingan biji kopi, peracikan, hingga penyajian. Solong Coffee menggunakan kopi Lamno, Aceh Jaya.

Selain sempit, kata Cek Nawi, di simpang tujuh dulu terdapat dua batang pohon besar. Cek Nawi menyebutnya bak geulumpang. Karena kanopinya yang rimbun dan meneduhkan, di bawah pohon tersebut menjadi pasar sayur-mayur tradisional. Sistemnya barter tanpa menggunakan mata uang. Padahal, kata Cek Nawi, saat itu uang telah berlaku sebagai alat tukar.

”Pohon tersebut ditebang sekitar 1970-an untuk pelebaran simpang," ujar Cek Nawi. Setelah pohon ditebang, pasar tradisional bersistem barter tersebut pelan-pelan mulai ditinggalkan.

Selain pasar tradisional tersebut, ada juga pasar ternak. Letaknya di Masjid Ulee Kareng sekarang. Pasar ternak tersebut, kata Cek Nawi, khusus Sabtu digunakan untuk menjual sapi. Sementara hari lainnya untuk menjual unggas. Bangunan toko di simpang tujuh tersebut dulunya masih berbahan kayu dan beratap daun rumbia. “Sejak 1980 baru dibangun toko permanen. Itu pun tidak semua," ujar Cek Nawi.

Sekitar dua tahu setelah itu, tambah Cek Nawi, aliran listrik masuk ke Ulee Kareng. Sebelumnya, setelah Indonesia merdeka, sama seperti masyarakat di wilayah lainnya, penerangan menggunakan panyot atau lampu teplok.

Cek Wan juga menuturkan hal serupa. Sejak ia berjualan kopi 35 tahun lalu di simpang tersebut, banyak sekali perubahan. Harapannya kini, simpang tersebut dibenahi terutama dari segi lalu lintas untuk mengurangi kemacetan. “Saat bulan puasa, biasanya simpang itu susah untuk dilewati karena badan jalannya diisi penjual penganan berbuka. Sehingga, warga yang lewat harus mencari jalan alternatif lain," ujar Cek Wan.

Komentar

Loading...