Unduh Aplikasi

Tradisi Meugang, Warisan Leluhur Yang Tak Pernah Sirna

Tradisi Meugang, Warisan Leluhur Yang Tak Pernah Sirna
Pedagang daging sapi di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe Foto: Sarina

LHOKSEUMAWE - Jam menunjukkan pukul 00.00 WIB, pergantian tanggal dan waktu seiring semakin kelamnya malam, kapak dan pisau-pisau tajam berkilau oleh pancaran sinar lampu tenda, kopi bersama bungkusan makanan ringan menemani para pedagang malam itu, Selasa (15/5).

Tidak jauh dari tenda yang dipancang di bawah pohon rindang itu tampak sejumlah sapi, gemuruh raungan sesekali terdengar, dengan mulut komat-kamit mengunyah rerumputan yang merupakan makanan terakhirnya. Betapa tidak, pisau dan kapak tajam menanti. Satu persatu sapi-sapi itu disembelih sesuai dengan hukum Syariat Islam. Kamudian daging sapi-sapi itu dijual di hari meugang,

Setiap datangnya bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, biasanya paling sering kita melihat adalah tradisi berziarah makam, beda halnya tradisi yang ada di daerah Aceh, selain tradisi ziarah masyarakat yang ada di tanah paling ujung Indonesia itu juga mewarisi tradisi meugang.

Dalam perayaan tradisi meugang, masyarakat berbondong bondong mendatangi pasar tradisional untuk membeli daging sapi, Kambing dan Unggas. Inilah yang disebut tradisi Meugang.

Tradisi Meugang atau dikenal dengan sebutan masyarakat Aceh Makmeugang, merupakan tradisi membeli daging tanpa ada perbedaan miskin dan kaya, daging sapi diolah untuk disantap bersama keluarga.

Tradisi warisan leluhur itu biasanya dirayakan tiga kali dalam setahun, yaitu menjelang datangnya bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan jelang Hari Raya Kurban atau Idul Adha.

Dalam perayaan tradisi meugang, para penjual daging mulai menyembelih sapi dan membuka lapak dagangan sejak tengah malam atau menjelang dinihari, daging-daging segar digantung dibawah bambu berlangitkan terpal, beda halnya dengan hari-hari biasa, masyarakat tidak ramai mendatangi pasar untuk membeli daging.

Dalam sejarah, tradisi meugang sudah berlaku di Aceh sekitar abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Aceh. Ajaran Islam menyakini masyarakat Aceh menyambut setiap datangnya bulan Suci Ramadan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dengan kemeriahan dengan menobatkan daging sapi yang terbaik sebagai makanan hidangan untuk dihidangkan dalam suasana kemeriahan pada perayaan hari hari besar dalam Islam.

Dulu kala, setiap datangnya hari Meugang, para raja dan orang-orang kaya membagikan daging sapi kepada fakir miskin yang diyakini salah satu cara memberikan sedekah serta membagi kenikmatan dan kebahagian kepada masyarakat dari kalangan tidak mampu.

Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, hari Meugang pun dirayakan oleh para Sultan, para pembesar kerajaan dan alim ulama, bahkan pada masa Aceh dalam kekuasaan kolonial Hindia Belanda, tradisi meugang tetap dilaksanakan di Aceh.

Pemerintah Belanda dikala itu memberlakukan libur kerja pada hari meugang, turut memberikan daging kepada masyarakat Aceh. Untuk memenuhi kebutuhan daging pada setiap datangnya hari meugang, para pendahulu masyarakat Aceh, juah jauh hari sebelumnya melakukan musyawarah desa menentukan iyuran uang untuk membeli sapi yang akan dipotong bersama, dengan cara bahu membahu inilah warga membeli Sapi untuk di potong pada hariMeugang dan dibagi rata.

Seiring dengan perkembangan zaman, menjelang perayaan meugang Ramadan 1439 Hijriah seperti sekarang ini masyarakat Aceh ramai ramai mendatangi pasar pasar tradisional tempat penjualan daging sapi, meningkatnya permintaan daging itu pun mengakibatkan lonjatan harga daging lebih mahal Rp170 ribu hingga Rp180 ribu perkilogram dari harga biasanya.

Salah seorang pedagang daging sapi di Lhokseumawe, Muhammad Ali, mengatakan, meski harga mahal tidak pernah menjadi persoalan, sebab tradisi meugang bukan hanya memiliki makna lahiriah sebagai perayaan menikmati daging sapi semata, namun meugang di Aceh tersirat nilai tersendiri dalam ajaran Islam maupun adat istiadat masyarakat yang menilai hari meugang merupakan hari penting.

“Kebahagiaan dapat diwujudkan dengan cara menikmati daging bersama yang menjadikan hari meugang sebagai warisan leluhur dihati masyarakat yang terus dirawat yang tidak pernah sirna di Aceh,” ungkapnya.

Sementara harga daging sapi hari ini pada meugang pertama sambungnya, Rp 170 ribu per kilogram. Tidak menutup kemungkinan hari meugang kedua besok harganya bisa tembus sekitar Rp 180 ribu hingga Rp 190 ribu per kilogram.

Radio Baiturrahman

Komentar

Loading...