Unduh Aplikasi

Tembak Mati

Tembak Mati
Ilustrasi: wwf.

BANG Awee, kemarin malam, menjamu seorang tamu dari India. Dia adalah pegiat lingkungan yang mendorong perbaikan lingkungan, terutama dalam penyelamatan hewan langka dan dilindungi di dunia: badak. Dengan bahasa Inggris berdialek India, tamu Bang Awee, Naradep namanya, bercerita tentang keberhasilan negaranya dalam meningkatkan kembali populasi hewan itu.

“Kondisi di negara kita tidak jauh berbeda. Kemiskinan dan korupsi menjadi ciri khas. Yang membuat kami berhasil adalah kemauan dan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Bahkan para pemburu yang mencoba-coba masuk dan membunuh badak ditembak di tempat,” kata Naradep.

Lokasi yang dimaksud Naradep adalah sebuah Tanam Nasional Kaziranga di Provinsi Assam. Di sini, populasi badak meningkat pesat setelah hampir punah. Badak-badak digabung dengan individu yang dipindahkan ke sana dari beberapa daerah. Upaya seabad ini akhirnya menjadikan Assam sebagai salah satu tujuan wisata andalan India. Ribuan wisatawan datang ke sana sepanjang tahun.

“Memang sulit awalnya. Namun karena penegakan hukum serius, jangankan masuk ke dalam untuk mencuri cula. Berniat masuk saja para pemburu itu tak berani,” kata Bang Awee berlagak sebagai seorang penerjemah kepada kami yang tak banyak menghapal kosakata Bahasa Inggris.

“Aku dengar kemarin beberapa anggota DPRA juga ke Assam, bang. Apa betul?” Bang Rambo bertanya tentang kabar kepergian sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang difasilitasi oleh World Wild Fund beberapa waktu lalu. Mendengar pertanyaan ini, Bang Awee mengangguk.

Sebenarnya, kata Bang Awee, kalau anggota dewan mau belajar, banyak hal penting yang bisa diterapkan untuk menyelamatkan satwa langka dan dilindungi di Aceh. Namun harus ada rancangan besar yang didukung sepenuhnya oleh kekuatan politik yang mampu membuat seluruh elemen tunduk terhadap aturan itu.

Di awal-awal, kata Bang Awee, mungkin kita bisa membuat qanun konservasi yang benar-benar independen dan jauh dari perpanjangan tangan pusat. Karena, kata Bang Awee, terbukti tangan-tangan pusat di Aceh yang menangani bidang lingkungan gagal dan tak bertaring. Sehingga kegiatan mereka lebih banyak mendata hewan yang mati ketimbang menyelamatkan.

Perangkat daerah dan partai politik di Aceh juga harus membuka mata agar mau menjadikan konservasi dan perlindungan hutan serta satwa di dalamnya sebagai jenderal pembangunan. Aceh, kata Bang Awee, bisa tetap hijau dan modern. Toh selama ini pertambangan dan perkebunan raksasa lebih banyak mudaratnya ketimbang memberikan kesejahteraan.

“Kuncinya,” kata Bang Awee, “harus ada kesadaran dan dorongan politik yang kuat di DPRA untuk memperkuat peran tanam nasional yang ada. Atau bila perlu, dibuat taman nasional Aceh sebagai upaya dan keseriusan kita dalam menyelamatkan hewan-hewan langka. Para petugasnya bisa dipersenjatai seperti di India. Mulai dari gubernur, dewan, kepala dinas, polisi, jaksa, bupati, harus benar-benar mendukung dan menjalankan aturan hukum. Mereka juga harus tegas.”

“Jangan lupa Wali Nanggroe juga. Mungkin, sebagai permulaan, Wali Nanggroe Aceh terpilih harus benar-benar memahami konsep konservasi dan perlindungan hutan dan satwa liar. Sehingga dia bisa mengarahkan seluruh masyarakat untuk menjadi bagian dari rencana penyelamatan satwa liar dan hutan Aceh,” kata Bang Rambo.

Bang Awee manggut-manggut. dia lantas menerjemahkan sebagian diskusi kecil kami kepada Naradep. Dalam Bahasa Inggris, Naradep lantas menjawab dengan kepala bergoyang ke kiri dan kanan. Kami hanya bisa menebak-nebak, entah dia setuju atau tengah menolak wacana itu.

Komentar

Loading...