Unduh Aplikasi

Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah Rusak dan Tak Terawat

Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah Rusak dan Tak Terawat
Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah yang terbengkalai dan tidak terurus, Foto: AJNN.Net/Rahmat Fajri

BANDA ACEH - Tempat-tempat bersejarah seharusnya dirawat dengan baik, bukan malah dibiarkan rusak dan diselimuti semak belukar di tengah pulau. Seperti situs Karantina Haji Nusantara yang berada di Pulau Rubiah, Kota Sabang, kondisinya cukup memprihatinkan dan memang tidak terawat sama sekali.

Pantauan AJNN saat berkunjung ke situs bersejarah tersebut, bangunan itu bukan hanya disilimuti ilalang, tetapi juga sudah rusak berat dan memang tidak layak lagi untuk dikunjungi. Mulai dari atap, pelapon, pintu, jendela, toilet semuanya sudah hancur, bahkan sebagian dinding gedung bersejarah itu mulai retak.

Salah seorang warga yang berkunjung ke situs karantina haji ini, Herman mengaku terjekut melihat kondisi tempat penting itu tidak terawat, mengingat sejarah bangunan tersebut juga sebagai salah satu usul sehingga Aceh disebut daerah Serambi Mekkah, seharusnya harus dirawat sebaik mungkin gedung ini.

Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah yang terbengkalai dan tidak terurus, Foto: AJNN.Net/Rahmat Fajri

"Kenapa seperti ini, padahal ini situs sejarah, tapi terbengkalai, kenapa tidak di pugar. Kalau seperti ini orang luar tidak akan pernah tahu bahwa Aceh pernah menjadi tempat karantina jamaah haji Indonesia," kata Herman saat ditemui di lokasi, Senin (24/6).

Sementara itu, Kabag TU Kanwil Kemenag Aceh, H. Saifuddin mangakui, saat mengunjungi bangunan karantina haji tempo dulu itu memang terlihat tidak ada perawatan, bahkan kondisi bangunannya sudah dipenuhi reruntuhan atap plafon, dan dari luarnya ditumbuhi ilalang setinggi pinggang orang dewasa, gedung itu dibiarkan begitu saja.

Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah yang terbengkalai dan tidak terurus, Foto: AJNN.Net/Rahmat Fajri

Di depan bangunan itu juga terdapat sumur tua, sebagai tempat penampungan air. Namun, kondisinya juga terbengkalai begitu saja, dipenuhi sampah pepohonan.

"Namun, saat ini kondisi bangunan itu sudah tidak terawat, hanya tersisa beberapa bangunan saja yang sudah di keliling semak belukar, sehinga banyak yang tidak tahu akan sejarah tersebut," kata Saifuddin beberapa hari lalu.

Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah yang terbengkalai dan tidak terurus, Foto: AJNN.Net/Rahmat Fajri

Saifuddin berharap, tempat bersejarah ini harus menjadi perhatian pemerintah daerah, sehingga dapat menjadikannya sebagai situs sejarah, serta juga bisa membangun museum haji untuk pusat edukasi dimasa mendatang.

Dirinya mengatakan, bangunan karantina haji ini menjadi catatan sejarah perhajian Indonesia, gedung tersebut dibangun tahun 1920 pada zaman kolonial belanda, dan saat itu menjadi tempat persinggahan terakhir dari kapal jamaah haji yang hendak pergi ke atau pulang dari Mekah.

Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah yang terbengkalai dan tidak terurus, Foto: AJNN.Net/Rahmat Fajri

Berdasarkan tulisan yang tertera pada monumen di lokasi bangunan tersebut dijelaskan bahwa gedung karantina haji itu merupakan bangunan asrama haji di zaman kolonial yang terletak di pulau rubiah, Sabang, Aceh. Pada tahun 1920, Pulau Rubiah ini dijadikan sebagai tempat karantina bagi jamaah haji yang baru pulang dari Mekkah.

Karantina haji Pulau Rubiah adalah objek bersejarah dalam riwayat perjalanan haji Indonesia, dan tempat ini merupakan pusat karantina haji pertama di Indonesia.

Komentar

Loading...