Unduh Aplikasi

Sidang DKPP, Anggota Panwaslih Aceh Bantah Terima Uang

Sidang DKPP, Anggota Panwaslih Aceh Bantah Terima Uang
Komisioner Panwaslih Aceh, diambil sumpah saat sidang dugaan pelanggaran kode etik oleh majelis sidang DKPP, Rabu (5/12/2018). Photo: AJNN.NET /Rahmat Fajri

BANDA ACEH - Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Republik Indonesia menggelar sidang dugaan pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan salah satu Komisioner Panwaslih Aceh, Zuraida Alwi dan dua Komisioner Panwaslih Kabupaten Nagan Raya, Said Syahrul Ramad (ketua) dan Adam Sani (anggota), Rabu, (5/12/2018).

Sidang digelar atas aduan Jufrizal (Masyarakat/Pemilih-mantan Panwas), Said Mudhar (Masyarakat Pemilih), dan Zulkifli selaku masyarakat/pemilih. Dengan kuasa hukum Askhalani dan rekan.

Dalam sidang yang berlangsung di aula kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh itu. Jufrizal (pengadu) mengaku melaporkan Zuraida Alwi (teradu) terkait dugaan permintaan uang pada proses seleksi calon anggota Panwaslu Kabupaten/Kota Agustus 2017 lalu.

Baca: Terkait Dugaan Suap, DKPP Panggil Sejumlah Saksi

Kepada Majelis sidang yang dipimpin Muhammad dengan satu orang anggota Ria Fitri, Jufrizal menyampaikan teradu meminta uang sebesar Rp 40 juta kepada dirinya untuk diberikan kepada dua anggota Panwaslih lainnya yang melakukan seleksi. Uang tersebut agar dirinya dapat diluluskan sebagai anggota Panwaslu Kabupaten Nagan Raya.

"Saya tarik uang di bank Rp 50 juta di bank, dan saya berikan Rp 40 juta kepada teradu I," kata Jufrizal didepan majelis hakim DKPP.

Sementara itu, Kuasa Hukum pengadu, Zulkifli mengatakan pihaknya telah membuktikan di persidangan, semua materi sudah sangat relevan dibuktikan, dan pihaknya yakin akan memutuskan seadil-adilnya. Berdasarkan informasi dari kliennya, uang Rp 40 juta diserahkan langsung oleh Jufrizal kepada Zuraida dengan alasan akan diberikan kepada dua komisioner Panwaslih.

"Berdasarkan pengaduan dugaan, dan persidangan tadi, itu diserahkan oleh saudara Jufrizal langsung, di kantor DPM, diterima oleh teradu I, yang katanya akan diserahkan kepada dua komisioner lainnya. Diberikan dengan harapan untuk lolos (Panwaslu)," ujar Zulkifli.

Kesaksian Jufrizal, dibantah keras Zuraida Alwi membantah keras. Zuraida Alwi menolak sepenuhnya jika telah menerima uang sebesar Rp 40 juta dari Jufrizal selaku pengadu.

"Saya menolak itu semua, karena memang tidak pernah kita lakukan. Tidak pernah, kalau didepan tadi saya dari awal semuanya saya tolak itu," tutur Zuraida kepada wartawan usai mengikuti sidang.

Menurut Zuraida, bagaimana mungkin uang tersebut diterima dirinya, apalagi bukti yang diberikan pengadu juga tarikan rekening pribadinya sendiri. Selain itu, seperti penyampaian pengadu bahwa uang tersebut dibagikan kepada komisioner Bawaslu, itu juga tidak ada. Faktanya, lanjut Zuraida, komisioner Bawaslu saat itu Asqalani sudah menjawab tidak pernah menerima bahkan tidak mengetahui persoalan uang tersebut.

"Bagaimana mungkin, kalau bukti yang dia kasih itu tarikan rekening pribadi. Dan Asqalani menjelaskan dia tidak pernah dan tidak tau, saya juga menjawab seperti itu," ungkapnya.

"Bagaimana yang dibilang dibagi, uang juga tidak ada," tambah Zuraida.

Kemudia, Zuraida mengaku sudah melaporkan Jufrizal ke Polda Aceh terkait pencemaran nama baik karena pengadu dinilai telah melaporkannya ke DKPP atas dugaan penerimaan uang, namun tidak mempunyai bukti yang cukup untuk membuktikan dugaannya tersebut.

"Karena itu diadukan tidak dengan bukti-bukti yang cukup, saya mengadukan kembali (Jufrizal) ke Polda Aceh terkait pencemaran nama baik. Jadi sekarang tugas pengadu yang harus membuktikan itu," pungkasnya.

Komentar

Loading...