Sensasi Uap Rokok Elektrik

Sensasi Uap Rokok Elektrik
Berbagai jenis rokok elektrik. Foto: ist

Beberapa botol berukuran 30 mililiter tersusun rapi di atas meja berbahan kayu di Docter Vapor, Rabu, 2 November 2016. Di belakang meja, berdiri seorang pria berbaju cokelat asyik menghisap rokok elektrik. Asap tebal dari rokok tersebut menyerbak ke seisi ruangan. Bau asap itu tidak menyengat seperti rokok biasa, tapi wangi layaknya parfum.

Di sisi lain ruangan kedai di kawasan Peuniti, Banda Aceh itu seorang perempuan berambut sebahu juga sedang “bersemangat” menyemburkan asap vapor sembari menonton YouTube melalui tablet miliknya. “Kurang lebih sudah dua tahun saya nge-vape,” ujar perempuan bernama Cut Mina ini.

“Nge-vape” yang dimaksud Cut Mina adalah mengisap rokok elektrik yang akrab dikenal sebagai vaporizer atau vapor. Ia beralih ke vapor demi meninggalkan kebiasaan lamanya mengisap rokok tradisional. “Selama saya nge-vape tidak pernah merokok lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, Mina berulang kali mencari cara agar dapat meninggalkan kebiasaan mengisap rokok konvensional. Biasanya saban hari ia menghabiskan dua hingga tiga bungkus rokok.

Namun, ia tak kunjung menemukan alternatif yang tepat untuk beralih hingga dua tahun lalu seorang teman mengenalkan vapor kepadanya. Namun ia tak serta-merta berpindah haluan. Baru pada 2015 ia mulai terpincut dengan vapor. Sejak itu, ia merasa vaporizer dapat mengubah keinginan kebiasaan lamanya.

Perempuan 35 tahun yang mengelola komunitas vapor Indonesia regional Aceh, VapeSquad Aceh, ini mengakui kehidupannya kian baik, setelah nge-vape. “Saat bangun pagi lebih segar,” ungkapnya.

Saat masih merokok biasa, Mina mengaku agak susah bangun pagi. Wanita yang bekerja sebagai penata rias selalu membutuhkan air mineral ketika bangun pagi. Hal ini tidak dirasakannya ketika menggunakan vapor. “Nge-vape ini tidak (membuat) ketergantungan. Misalnya, kalau setiap sudah makan kita harus merokok, tapi kalau nge-vape itu nggak gitu,” ujar Mina.

Berbeda dengan rokok biasa, vaporizer mengandung liquid yang tersedia dalam beragam rasa. Liquid ini diracik dari tiga hingga empat bahan. Salah satunya, nikotin, zat adiktif yang juga ditemukan pada rokok kebanyakan. Liquid juga memiliki zat perasa yang memberikan rasa berbeda dan unik yang dicari para pengguna vapor.

Selain itu ada propilen glikol. Zat ini bereaksi dengan atomizer dan menghasilkan uap tebal yang dapat dilihat dan rasakan. Karena itu, kata Mina, pengisap rokok elektrik tidak mengenal istilah asap rokok. “Sebenarnya yang keluar itu bukan asap, tapi uap. Liquid ini ada yang ada nikotin ada juga yang tidak ada nikotin,” ujarnya. Di dalam liquid juga terdapat vegetable glycerin atau gliserin. Bahan ini bila bereaksi dengan atomizer akan menghasilkan uap lebih tebal dibandingkan propilen glikol.

Hal itu dibuktikan Mina ketika ia menyambangi Vape Fair di Jakarta beberapa pekan lalu. Ia melihat dan merasakan sendiri di dalam ruangan tempat acara dipenuhi ribuan pengunjung. Mereka semua menggunakan vapor. “Ruangnya penuh dengan asap tapi kita tidak sesak, karena terbukti ini uap, tidak panas, maka di situlah kita percaya kalau ini uap,” jelasnya.

Uap dari vapor semerbak ke hidung. Berbeda dengan rokok yang asapnya menimbulkan bau dan sesak. Karena banyaknya uap, kata Mina, orang akan menilai asap dari vapor bakal sangat mengganggu, padahal tidak. “Liquidnya ini dari bahan makanan, minyak sayur yang dibakar menjadi uap,” jelasnya.

Karena vapor memiliki banyak rasa Mina tak ambil pusing. Ia memilih rasa apa saja yang disukainya. Biasanya ia memilih liquid rasa stroberi, kopi, kacang, dan coklat. Rokok elektrik, kata dia, juga tidak membuat wajahnya kusam. “Saya merasa wajah sekarang sudah lebih segar,” ungkapnya.

Selama ini hampir tidak ada hal negatif yang dirasakan Mina ketika menggunakan vaporizer. “Vapor
ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup,” ujarnya. Walaupun harganya lebih mahal ketimbang rokok biasa, ia merasakan lebih hemat. “Kalau kita beli liquid seratus lima puluh ribu (rupiah) bisa pakai lima sampai enam hari. Coba kalau rokok tiga bungkus sehari kalikan saja berapa.”

Motivasi yang sama juga dirasakan oleh pria bertubuh kekar ini bernama Rianda. Ia menggunakan vaporizer ini sejak April lalu. Rianda mengaku itu bukan untuk gaya-gayaan. “Memang pingin berhenti merokok,” ujarnya saat ditemui di salah satu warung kopi sekitaran Ulee Kareng, awal Desember.

Pada 2012, Rianda sudah mengenal vapor. Ia meminjam milik temannya untuk dicoba. Sebelumnya Rianda tidak terlalu aktif merokok. Karena tekanan kuliah, mahasiswa Unsyiah ini menjadi penghisap rokok kretek atau filter. “Kalau nggak merokok nggak enak rasanya,” ujarnya.

Rianda tidak setuju kalau vapor menyebabkan kanker. Ia mengakui pernah membaca artikel terkait dengan vapor. Rianda berasumsi liquid yang berasal dari minyak sayur itu digunakan dalam vapor tidak menyebabkan kanker. “Saya belum dapat artikel yang mengatakan vapor bisa menyebabkan kanker,” ujarnya.

Secara umum, liquid yang dibenamkan dalam vaporizer memiliki ratusan rasa.“Biasanya saya lebih (suka) ke rasa krimi-krimi gitu seperti rasa susu, kopi gitu,” ujar pria berkacamata ini.

Selama menggunakan vapor, banyak dampak baik yang dirasakan Rianda. Kini, ia tidak lagi membeli rokok tembakau. “Paling saya minta satu sama kawan kalau sudah habis liquidnya,” cetusnya.

Saban hari menggunakan vapor Rianda mengaku mendapatkan dampak yang baik. Selama merokok biasa, ia selalu batuk berdahak saat pagi. Apalagi didukung dengan penyakit sinus yang dideritanya. Namun selama menggunakan vapor semua itu sudah semakin membaik. “Tidak pernah lagi berdahak dan batuk pun sudah jarang. Nafas semakin lega, tidak sesak. Paling enak lagi tidak bau, uapnya wangi tidak mengganggu orang sekitar,” ujarnya.

Cara kerja rokok elektrik memanfaatkan sensor. Sewaktu perokok menghisap ujung rokok elektrik, sensor air flow segera mengenali terjadinya udara yang mengalir. Saat inilah mikroprosesor mengaktifkan atomizer. Atomizer lantas menyemprotkan isi dalam tabung, yang salah satunya nikotin. Selanjutnya akan muncul asap ringan hasil reaksi propylene glycol. Lampu di ujung rokok lalu hidup dan memberi rasa seakan terbakar.

Alat-alat dalam vapor terdiri dari mods dan otomizer. Selain itu, dalam vapor ada hal yang sangat penting, yakni chip. Alat ini berguna untuk menghambat ledakan. Sebelumnya banyak vape meledak akibat tidak adanya chip ini. “Yang paling mahal chip DNA. Chip terbaik yang pernah dibuat untuk itu, ketika korslet dia akan terputus, kemungkinan meledak itu tidak ada, ini sifatnya elektrik mod,” ujar Rianda. Harga DNA yang dibuat dengan chip terbaik harganya Rp3 juta lebih. Sementara liquid biasa dijual mulai harga Rp 100 hingga Rp 350 ribu.

Ada juga, kata dia, vapor berjenis mechanical mod tanpa chip. “Jadi dari baterai langsung ke tangkinya, dan ke power, kemungkinan meledak ada,” sebutnya.

Otomizer dibagi dalam tiga kategori. Pertama, Rebuildable Dripping Atomizer (RDA). Ini otomizer yang tidak menggunakan tangki atau tempat penampung liquid. Sehingga harus meneteskan liquid secara berkala pada coil ataupun kapasnya. “Jenis ini banyak keluar uapnya,” kata Rianda. Walau sedikit repot untuk penggunaanya tetapi RDA memberikan hasil rasa vapor paling baik.

Kemudian Rebuildable Tank Atomizer (RTA) yang merupakan otomizer menggunakan coil pabrikan. Ketika ingin mengantikan coil, pengguna harus menggunakan coil pabrikan dan tidak bisa membuat sendiri. Coil merupakan kawat lilit dalam otomizer. RTA adalah otomizer yang menggunakan tangki untuk menampung liquid. Otomizer ini cocok untuk pengguna yang tidak ingin repot meneteskan liquid pada coil atau mengganti kapas secara berkala.

Terakhir ada Rebuildable Driptip Tank Atomizer (RDTA), penggabungan RDA dan RTA. Otomizer ini memiliki tangki penampung liquid dan juga memiliki coil yang dapat diubah oleh pengguna akhir. Hal ini cocok untuk pengguna vapor yang ingin mengulik coil tanpa perlu repot meneteskan liquid.

Menurut Rianda, saat memilih otomizer selain memperhatikan harganya, pengguna vapor juga harus melihat hasil rasa maupun asap. Ini hanya salah satu faktor kecil untuk membangun alat sesuai selera masing-masing.

Di Aceh, vapor tergolong laris. Vapor dijual ke semua kalangan, kecuali pada orang berusia di bawah delapan belas tahun. “Dilarang bagi yang di bawah umur,” ujar Juha Firdaus, penjual di Docter Vapor. Larangan ini dikeluarkan Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia.

Pembeli umumnya kalangan mahasiswa. Kebanyakan orang yang membeli vapor pada Juha juga melontarkan alasan ingin berhenti merokok. “Lain tidak ada. Bahkan ada orang yang datang ke kami bilang ini lebih bagus dari pada rokok,” ujarnya.

Harga vapor di Aceh bervariasi. Paketnya yang lengkap siap pakai dijual mulai dari Rp600 ribu hingga Rp 2,5 juta. “Di luar (Aceh) mahal-mahal lagi,” ujar Juha. Di Banda Aceh, kata dia, yang paling dibanyak laku vapor dengan harga Rp1,5 juta.

Variasi harga ditentukan dari kualitas vapor. Biasanya vapor seharga Rp600 ribu chip yang digunakan buatan Cina. Sementara vapor seharga Rp2,5 juta, kata Juha, menjadi barang limited edition dari Amerika Serikat. “Kalau rasa yang paling banyak laku di sini, stroberi dan krimi-krimi,” kata Juha.

Tak hanya dipakai untuk diisap saja, vapor juga harus dirawat secara berkala. Tiga hari sekali, kata Juha, kapasnya mesti diganti. Lalu, dua pekan sekali ganti kawat. “Dibersihkan semua pakai alat sendiri. Ganti kapas harganya lima belas ribu (rupiah), ganti coil atau kawat dua puluh lima ribu (rupiah) untuk dua coil.”

Penulis: Khalis Surry
Editor: Mujahid Arrazi

(Tulisan ini juga dapat dinikmati di Jurnal Aceh)

data-ad-format="auto">

Komentar

Loading...