Unduh Aplikasi

Sekarat karena Jerat

Sekarat karena Jerat
Ilustrasi: yayasantitian.org

SEEKOR beruang madu selamat dari kematian setelah dilepaskan dari jerat. Evakuasi itu dilakukan Senin lalu oleh Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan PKSL Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Setelah menjalani pemeriksaan, dan dinyatakan sehat, hewan dilindungi itu dilepaskan kembali ke alamnya.

Beruang madu itu terperangkap jeratan babi di area perkebunan masyarakat di kawasan Bener Meriah. Beruntung, bagi kita, hewan penting itu tidak mati. Nasibnya lebih baik dari banyak hewan-hewan dilindungi yang mati terkena jerat.

Jerat sepertinya tak berbahaya. Tidak seperti bedil yang membunuhi burung. Namun tetap saja hal sederhana itu berbahaya bagi keselamatan hewan-hewan penting di hutan Aceh, seperti harimau, gajah dan badak. Jerat tak mengenal target. Sering kali pasang untuk menjerat babi, namun yang terjerat adalah harimau. Terutama jerat yang terbuat dari tali baja.

Sering kali hewan yang terkena jerat tak selamat. Andaipun di selamat, saat itu, ada saja luka parah yang berujung pada kematian. Seperti dilansir WWF Indonesia, terdapat 130 kasus kematian Harimau Sumatera, dalam 15 tahun terakhir, karena terjerat.

Jerat adalah salah satu alasan terjadinya kepunahan spesies di Asia Tenggara. Ini diungkap oleh Thomas N. E. Gray dan rekan-rekannya dalam penelitian berjudul The Wildlife Snaring Crisis: An Insidious and Pervasive Threat to Biodiversity in Southeast Asia.

Jerat juga menjadi pembunuh efektif karena terselubung. Jerat juga masih menjadi senjata andalan para pemburu liar untuk menangkap satwa-satwa kunci di hutan Aceh. Sebagian besar dijual untuk dijadikan obat tradisional atau jadi gengsi pemiliknya.

Beruang madu sering kali menjadi incaran karena dianggap ampuh untuk menyembuhkan sejumlah penyakit. Organ tubuh beruang madu biasanya dijual ke Cina. Ditambah dengan buruknya pengelolaan hutan di Aceh, jumlah mamalia ini semakin menyusut. Sayang, belum ada riset serius untuk meneliti beruang madu sebagai upaya perlindungan terhadap satwa ini.

Karena itu, kita berharap pemerintah daerah, aparat keamanan, pegiat lingkungan, dan pihak otoritas satwa liar di Aceh dapat merangkul para pemburu dan masyarakat untuk tidak menggunakan jerat. Terutama jerat baja. Sebuah langkah kecil ini tentu akan sangat berarti bagi perlindungan satwa liar, terutama spesies kunci, di Aceh.

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin
HUT AJNN 6th - Inspektorat Aceh Jaya
HUT AJNN 6th - DPC Demokrat Aceh Jaya

Komentar

Loading...