Unduh Aplikasi

Sebar Berita Bohong Soal Kasus Pelecehan Seksual di Lhokseumawe, Polisi Tetapkan Tiga Tersangka

Sebar Berita Bohong Soal Kasus Pelecehan Seksual di Lhokseumawe, Polisi Tetapkan Tiga Tersangka
Polisi memperlihatkan pelaku dan barang bukti di Mapolres Lhokseumawe. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE – Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Lhokseumawe menetapkan tiga tersangka baru dalam kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum pimpinan dayah berinisial AI (45) dan oknum guru ngaji MY (26) di salah satu lembaga pendidikan ternama di Kota Lhokseumawe.

Ketiga tersangka tersebut yakni berinisial HS (29) seorang petani yang mengupload berita bohong itu ke facebook, kemudian IM (19) seorang mahasiswa yang memposting berita tersebut ke dalam grup WatsApp (WA), dan ketiga NA (21) seorang mahasiswi yang memposting ke grup WA, yakni memindahkan dari grup pertama ke grup lainnya.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang mengatakan, adapun berita bohong yang disebarkan yakni kasus oknum pimpinan dayah yang saat ini ditangani oleh Polres Lhokseumawe, mereka sebarkan dengan menyebutkan kalau itu merupakan fitnah.

“Dan dalam isi pesan itu menjelaskan kalau menurut pengakuan salah satu anggota penyidik, perkara tersebuta adalah perkara yang dipaksakan untuk diusut, akhirnya karena ini sudah menimbulkan kegaduhan dan menimbulkan pendapat masyarakat yang berbeda akhirnya kami amankan tersangka tersebut,” katanya saat konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Rabu (17/7).

Sambungnya lagi, kemungkinan ada tiga orang lagi saat ini yang sedang diburu terkait dengan perkara itu. Dan menurut pengakuan HS mereka memposting karena banyak orang yang bertanya terkait perkara yang melibatkan oknum pimpinan dayah dan guru ngaji tersebut.

“Dan HS juga mengakui tahu tentang perkara itu akhirnya dia posting ke Facebook, sedangkan tersangka IM dia mengakui kalau dia hanya memposting grup itu untuk meminta tanggapan atau menanyakan kepada grup satunya apakah itu benar atau bohong,” jelasnya.

Dia menyebut, ketiga tersangka baru itu tidak ada hubungan dengan oknum pimpinan dayah dan guru ngaji, hanya dugaan pihaknya pembuat berita bohong itu merupakan salah satu dari personel pesantren itu, antara pengurus, alumni atau lainnya.

“Terkait dengan pendidikan dayah AN merupakan hal yang sensitif karena bersentuhan dengan agama, makanya kepolisian harus meluruskan dan menjelaskan bahwa proses penyelidikan ini berjalan berdasarkan alat bukti. Jadi ketika yang membuat kabar seperti ini, maka akan membuat masyarakat semua tergiring opini, dan ini akan sangat mengganggu proses penyelidikan. Kami juga menggambarkan bahwa penyebaran berita bohong ini sekecil apapun akan kami tindak sesuai hukum yang berlaku,” ungkapnya.

Untuk mempertanggungjawab perbuatannya mereka dikenakan pasal Pidana 15 Jo 14 ayat 1 dan 2 tentang peraturan hukum pidana subside pasal 45 A ayat 2 undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 sebagaimana di rubah dengan undang-undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2016 tentang transaksi dan elektronik, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara atau denda Rp1 Miliar.

HUT RI 74 - Pemkab Aceh Jaya
Idul Adha - Bank Aceh
Ubudiyah PMB 2019

Komentar

Loading...