Unduh Aplikasi

Sayangi Dia, Ya Allah, karena Menyayangi Kami

Sayangi Dia, Ya Allah, karena Menyayangi Kami
BJ Habibie. Foto: jawapos

PERNAH, pada suatu ketika, seorang pemuda Indonesia yang belajar di Eropa meminta pemerintahnya membangun industri pesawat terbang. Bukan hanya karena dia memahami dan menjalani pendidikan di bidang kedirgantaraan, anak Pare-Pare, Sulawesi Selatan, ini juga memiliki visi besar tentang pentingnya peran pesawat terbang di negeri kepulauan ini.

Anak itu adalah Bacharuddin Jusuf Habibie. Setelah menjalani pendidikan di Eropa, dia menjadi salah satu pakar kedirgantaraan. Ikut andil membangun industri pesawat terbang di Eropa: Airbus dan membangun industri pesawat terbang di Indonesia dengan membangun PT Dirgantara Indonesia dan industri strategis lain semisal PT Pindad.

Keinginan Habibie untuk negeri ini hanyalah kemandirian. Ini adalah wujud kecintaannya kepada rakyat dan negeri ini. Habibie, yang diberikan Allah kecerdasan luar biasa, melihat kemandirian itu hanya bisa didapat dengan upaya anak negeri membangun kapasitas mereka untuk mengolah kekayaan alamnya.

Terbukti, pesawat terbang kini menjadi alat transportasi penting yang menghubungkan pulau-pulau di negeri ini. Namun keinginan ini bukan tak memiliki pertentangan. Bahkan dari awal, ide ini banyak yang mencibir. Termasuk dari dalam negeri. Puncaknya pada saat Indonesia mengalami krisis moneter yang memaksa Indonesia menutup industri kedirgantaraan.

Bayangkan, jika Indonesia tak lagi bergantung pada negara-negara lain dalam urusan pesawat terbang, tentu saja 1.000 unit pesawat terbang yang saat ini melintasi langit nusantara, setiap hari, mungkin akan didominasi oleh produk-produk buatan Indonesia, bukan Eropa atau Amerika.

Ironinya, dari dalam negeri, kita juga harus berhadapan dengan para oportunis yang bersedia menggadaikan kedaulatan bangsa demi keuntungan pribadi. Mereka adalah orang-orang yang rela menjadi kaki tangan asing untuk memastikan tak ada kemandirian di negeri ini. Bahkan di negeri yang dikelilingi laut, Indonesia masih mengimpor garam.

Menjadi negara mandiri adalah sesuatu yang tak diinginkan oleh negara-negara lain. Bahkan industri kreatif yang digandang-gadang milik Indonesia tak sepenuhnya menjadi milik negeri ini. Berbagai cara dilakukan negara-negara asing, atas nama perdagangan bebas, untuk mengambil alih pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia.

Di usia 83 tahun, Habibie menghembuskan napas terakhir, kemarin. Kepergiannya adalah duka bagi orang-orang yang terus berupaya memerdekakan Indonesia dari ketergantungan terhadap asing. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi Presiden Indonesia ketiga itu. Semoga Allah memberikan pula kekuatan kepada kita untuk meneruskan cita-cita kemandiriannya.

Komentar

Loading...